JEMAAT KHUSUS RAWAMANGUN

Media Informasi dan Komunikasi Anggota Jemaat

Waktu Sekarang: 06-12-2019 21:29:15 pm

Selamat Datang di Media Informasi dan Komunikasi GKPI Rawamangun. Berselancar di media ini, sila pilih pilihan pada menu di bawah
BERANDA BERITA PHOTO

Sapaan Sabda

KEMATIAN: BUKAN KEHILANGAN TETAPI UNTUK MENDAPATKAN
Habakuk 3:1-6
Penulis |Pdt. Irvan Hutasoit|

Keberadaan manusia sepanjang hidupnya tidak pernah lepas dari yang namanya pergumulan. Ada dua sisi dalam kehidupan manusia, yaitu pergumulan dan sukacita. Pergumulan sering melahirkan dukacita, membuat pikiran terbeban dan hati sesak. Dan tidak jarang, pergumulan mendorong manusia pada keputuasasaan yang mengakibatkan pupusnya harapan. Pertanyaan penting bagi kita. Apa yang mengakibatkan pergumulan hinggap dalam kehidupan kita?

Pergumulan atau sukacita adalah tanggapan kita atas kenyataan. Cara atau sudut pandang terhadap kenyataan, itulah yang kerap menimbulkan sikap atau perasaan, apakah kita bergumul atau bersukacita. Saya bisa memberi contoh tentang hal ini. Suatu masa seorang mahasiswa, sebut saja namanya Navri, dinyatakan lulus dan segera akan diwisuda. Di hari wisuda, saat yang lain bersukacita, ternyata Navri meneteskan air mata. Dia bersedih. Mengapa? Setelah diselidiki maka didapat informasi bahwa Navri bersedih karena orang tuanya tidak bisa hadir di hari istimewa tersebut. Orang tuanya telah berbulan-bulan dirawat di rumah sakit akibat penyakit kanker.

Perhatikan contoh di atas. Antara mahasiswa yang bersukacita dan Navri yang bergumul itu sedang berhadapan dengan kenyataan yang sama, yaitu wisuda. Lantas, mengapa ada dua sikap yang berbeda. Mahasiswa yang bersukacita itu memahami wisuda tersebut sebagai hasil yang sudah diperoleh. Sementara Navri melihat wisuda itu dari sudut pandang berbeda, yaitu ada sesuatu yang hilang akibat ketidakhadiran orang tuanya. Dengan demikian, baik sukacita maupun pergumulan seringkali berawal dari cara pandang terhadap kenyataan. Kita bersukacita karena kenyataan sesuai dengan apa yang seharusnya. Sebaliknya, kita bergumul akibat kenyataan tidak seperti apa yang diharapkan.

Kalau begitu, bagaimana kita memahami suatu kenyataan yang terjadi dalam hidup kita. Dari enam ayat firman Tuhan hari ini, saya mau mengajak kita untuk fokus pada dua ayat, yaitu ayat 1-2. Dari dua ayat itu, maka alangkah baiknya bila pertama-tama kita memahami ayat 2 itu. Disana ada kata teman. Apakah kata itu berarti sahabat? Tidak. Kata teman berasal dari bahasa Ibrani yang dapat juga diartikan dengan selatan. Namun kata Teman itu dapat juga merujuk pada nama cucu Esau dari anaknya yang bernama Elifas. Pengertian apapun yang kita pakai, namun yang menarik adalah frasa yang mengawali ayat 3 itu, “Allah datang dari negeri Teman ...”

Frasa pada awal ayat 3 tersebut melawan cara pandang orang Yehuda. Bagi keturunan Yehuda, Allah itu datang dari gunung Sion. Tetapi dalam doanya, Habakuk justru mendengar bahwa Allah itu datang bukan dari Sion tetapi dari negeri lain yang justru bukan bagian dari bangsa atau umat Allah. Maksudnya, Allah memiliki otoritas dan hak untuk menyapa hidup manusia dari segala penjuru. Bahkan dari satu kenyataan yang tidak mengenakkan hati sekalipun, Allah dapat menyapa manusia.

Maka itulah sebabnya mengapa kemudian Habakuk berkata pada ayat 2 itu. Dalam doanya tersebut, ada kerinduan Habakuk agar Allah dan pekerjaanNya hadir dalam lintasan waktu. Maksudnya, bukan hanya pada waktu tertentu saja Allah itu melintas atau menyapa hidup manusia. Seluruh waktu kehidupan adalah lintasan kehadiran Allah. Semua waktu adalah momentum atau waktu yang dipakai Allah untuk menjumpakan diriNya dengan kita.

Pada hari ini kita masuk dalam minggu akhir tahun gereja. Lewat minggu ini, kita memasuki minggu-minggu Adven. Lazimnya, hari inilah kita akan mengingat kekasih hati yang telah meninggal. Dapat dipastikan, hati dan batin kita saat ini campur aduk. Ada kesedihan yang tidak terucap. Rasanya ingin berteriak dan menangis, meratapi kengiluan hati sebab telah berpisah dengan kekasih jiwa kita itu. Kita bergumul dan juga, kita bersedih. Perenungan buat kita hari ini ialah, akankah kita biarkan kengiluan dan kesedihan hati itu tetap berbekas?

Sebagaimana sudah saya jelaskan di atas bahwa sukacita dan pergumulan adalah dua sisi yang selalu hadir dan melekat dalam kehidupan kita. Respon apa yang muncul ketika menghadapi kenyataan ditentukan oleh sudut pandang melihat kenyataan itu sendiri. Demikian juga tentang kematian. Kita dapat bersedih bila kematian itu dipandang sebagai fakta yang mengakibatkan rasa kehilangan. Sebaliknya, kematian dapat melahirkan harapan manakala kita memandangnya sebagai fakta yang harus dilalui untuk memperoleh sesuatu. Tetapi, sudut pandang apapun yang kita pakai, pesan firman hari ini tidak boleh kita abaikan. Allah itu setia. KesetiaanNya diwujudkan ketika Dia menjumpai dan menyapa kita di segala tempat dan waktu. Termasuk hari ini, saat kita mengingat kekasih kita yang lebih dahulu meninggal. Kesempatan ini juga dipakai Allah untuk menyapa dan menjumpai kita.

Bagaimana caranya Allah menyapa dan menjumpai kita yang mungkin saja sedang bersedih hari ini? Maka, marilah kita mengingat Tuhan Yesus. Selain kelahiranNya yang sebentar lagi akan kita rayakan, ada tiga momentum penting kehadiranNya dalam sejarah dan pengalaman manusia, yaitu: kematian, kebangkitan, dan kenaikanNya. Tiga hal itu sangatlah penting kita hayati saat ini. Dia mati untuk bangkit dari antara orang mati. Selanjutnya, Dia bangkit untuk naik ke singgasanaNya yaitu sorga. Maksudnya, kematianNya bukanlah akhir keberadaan Allah. Ternyata, kematianNya berlanjut pada kebangkitan. Tidak berhenti pada kebangkitan, sebab setelah bangkit dari kematian, Dia naik ke sorga.

Dengan demikian, meskipun di antara kita ada yang bersedih hari ini tetapi satu hal yang tidak dapat kita lupakan, bahwa kematian dalam Tuhan Yesus pasti menawarkan harapan baru, yaitu kebangkitan. Dan kebangkitan itu tidak seperti kebangkitan Lazarus saja. Kebangkitan itu menjadi pintu masuk bagi kita untuk hidup bersama dengan Allah dalam kekekalan. Jelas sudah, bahwa sudut pandang pada kematian bukanlah fakta yang membuat kita kehilangan orang-orang yang dikasihi. Justru sebaliknya, kematian menjadi momentum untuk memperoleh anugerah Allah, yaitu kebangkitan.

Itulah sebabnya, tema minggu ini berkata, Allah yang agung menghakimi bangsa-bangsa. Dia menghakimi tidak berarti memenjarakan. Dia menghakimi agar kita bebas dari penjara kematian. Dia menghakimi agar dibalik kematian setiap orang percaya pada Kristus, beroleh kekekalan. Dia menghakimi agar kelak kita diangkat dari kematian pada hidup kekal. Oleh sebab itulah, ajakan bagi kita hari ini: pandanglah kematian sebagai momentum untuk memperoleh anugerah Allah, bukan fakta yang mengakibatkan kita merasa kehilangan. Terpujilah Tuhan. Amin.

Kategori | Kebaktian Minggu|

IBADAH LINGKUNGAN MINGGU INI
NO LINGKUNGAN TANGGAL TEMPAT
1 Lingkungan 1 29 Agustus Hamonangan Sinaga/Ester Sumaiku
2 Lingkungan 2 29 Agustus 2019 Uslen Manalun/Br. Parhusip
3 Lingkungan 3 29 Agustus 2019 Bachtiar Hutauruk
4 Lingkungan 4 28 Agustus 2019 B. Samosir/Br. Malau
5 Lingkungan 6 29 Agustus 2019 D. Manalu/Br. Panjaitan
6 Lingkungan 10 31 Agustus 2019 Ny. Sihite Br. Simanungkalit

KEGIATAN MINGGU INI
NO JENIS WAKTU KETERANGAN
1 Seksi Lansia Selasa, 27 Agustus 2019 Senam Lansia

PROGRAM PEMBINAAN

GKPI Rawamangun pada tahun 2019 memiliki program yang disebut Kelas Teologi Awam. Program ini telah berjalan sejak tahun 2018 lalu yang dikelola secara mandiri. Tahun ini, program ini berjalan berkat kerjasama antara GKPI Rawamangun dan STFT/STT Jakarta. Untuk itu kami mengundang seluruh warga jemaat GKPI Rawamangun dan anggota jemaat GKPI yang ada di Jabodetabek menjadi peserta dalam pembinaan ini. Semua peserta nantinya akan memperoleh sertifikat yang diterbitkan oleh STFT/STT Jakarta bersama GKPI Jemaat Khusus Rawamangun



Menjadi peserta, sila melalui dua pilihan:

  1. Online dengan cara KLIK PENDAFTARAN
  2. WA dengan menghubungi nomor: 0812-9100-050 (Pnt. Domdom Nadeak) atau 0878-9797-8586 (Pnt. Robert Simanjuntak)

Sila registrasi secepatnya sebab tempat terbatas. Kelas akan dimulai tanggal 24 Agustus 2019 akan datang


NO NAMA JEMAAT KATEGORI DONASI
1 Irvan Hutasoit GKPI Rawamangun Kelas Teologi Awam/VIVEKA Lite 100,000
2 Megawati malau GKPI RAWAMANGUN Kelas Teologi Awam/VIVEKA Lite 50,000
3 -- PILIH -- 0
4 Pdt. Novenrik Tambunan GKPI Cikarang Baru Kelas Teologi Awam/VIVEKA Lite 100
5 Riko Situmorang GKPI Rawamangun Kelas Teologi Awam/VIVEKA Lite 50,000
6 Hacked By ./HiraruKun Hacked By ./HiraruKun Pelatihan Pastoral Penatua 0

DUKUNGAN DOA BAGI JEMAAT SAKIT
NO NAMA KETERANGAN
1 Ny. Siagian Br. Manalu Perawatan di rumah
2 Ny. L. Sinaga Br. Hutagalung Perawatan di rumah
3 B. Dj. Simatupang Perawatan di rumah
4 Ny. R. Lbn. Tobing Br. Sitompul Perawatan di rumah
5 Ny. Matondang Br. Simatupang Perawatan di rumah
6 Ny. Simanjuntak Br. Napitupulu Perawatan di rumah
7 Ny. Hutagalung Br. Simanjuntak Perawatan di rumah
8 Ny. Hutapea Br. Siahaan Perawatan di rumah
9 Rahmat Hutabarat Perawatan di rumah
10 Ny. Naiborhu Br Sinaga Perawatan di rumah
11 Pnt. (Em.) Ny. Drh. Aida Sirait Br. Siagian Perawatan di rumah
12 Ny. Sagala Br. Limbong Perawatan di rumah
13 Ny. Verysa Sinaga Br. Siahaan Perawatan di rumah
14 Ny. Sinaga Br. Hutapea Perawatan di rumah
15 Pnt. (Em.). Ny. R.L. Tobing Br. Situmeang Perawatan di rumah
16 Ny. Pakpahan Br. Nainggolan Perawatan di rumah
17 Ny. Melva Simamora Br. Hutasoit Perawatan di rumah
18 Pnt. (Em). J. Hutagalung Perawatan di rumah
19 Pnt. (Em.) A. Simanungkalit Perawatan di rumah
20 Victor M. Panggabean Perawatan di rumah
21 S.M. Aritonang Perawatan di rumah
22 Godlim Panggabean Perawatan di rumah
23 Ny. Sihotang Br. Sitompul Perawatan di rumah
24 Ny. Sihite Br. Simanungkalit Perawatan di rumah
25 Kesya Br. Hutagalung RS. Hermina, Malang - Jawa Timur
PELAYANAN KAMI

Pelayanan di GKPI Rawamangun terdiri dari:

  1. Ibadah Minggu Pagi, Pukul: 07.00 WIB
  2. Ibadah Minggu Siang, Pukul: 09.30 WIB
  3. Ibadah Sekolah Minggu, Pukul: 07.15 WIB
  4. Ibadah Lingkungan, hari Selasa & Rabu, Pukul: 19.00 WIB
  5. PA Seksi Perempuan, hari Kamis, Pukul: 16.30 WIB
  6. Kelompok Tumbuh Bersama Seksi Remaja, hari Sabtu, Pukul: 15.00 WIB
  7. PA Seksi Pemuda, setiap hari Sabtu minggu keempat, Pukul: 19.00

Latihan Paduan Suara:

  1. Paduan Suara Serafim, hari Kamis, Pukul: 17.30 WIB
  2. Paduan Suara Maranatha, hari Jumat, Pukul: 20.00 WIB
  3. Paduan Suara Remaja, hari Sabtu, Pukul: 16.00 WIB
  4. Paduan Suara Pemuda, hari Sabtu, Pukul: 19.00 WIB
  5. Paduan Suara Conspirito, hari Sabtu, Pukul: 19.00 WIB
  6. Paduan Suara Gita Eklesia, hari Minggu, Pukul: 12.00 WIB

KUNJUNGI KAMI


HUBUNGI KAMI

Kami menyiapkan fasilitas online bagi anda bila membutuhkan pelayanan. Sila KLIK bila ingin mengajukan permohonan pelayanan

KABAR PELAYANAN
PENGHIBURAB KELUARGA (ALM.) KARLOS SIALLAGAN
Dikabarkan oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting tanggal :14-11-2019
Kabar Pelayanan GKPI Rawamangun -

Ibadah penghiburan dilaksanakan bagi keluarga (alm.) Karlos Siallagan. Almarhum meninggal pada usia 60 tahun meninggalkan Isteri dan tiga orang anak (Michael, Abednego, dan Olin). Nas Alkitab dalam ibadah ini diambil dari Roma 14:7-9. Ibadah penghiburan ini dilayani oleh Pnt. Freddy Siringoringo sebagai Liturgis, Pnt. Henry Sinaga membawakan Doa Syafaat, dan Pdt. Irvan Hutasoit sebagai pengkhotbah. Sementara ucapan penghiburan disampaikan oleh Pnt. Ida Pakpahan Br. Hutauruk dari Seksi Perempuan, Metana Panjaitan dari Pemuda-i, Ny. Sihombing Br. Marpaung dari Lingkungan 8 dan Pnt. Salim Panggabean dari Majelis Jemaat.

EMPATI PADA KEMATIAN
Dikabarkan oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting tanggal :13-11-2019
Kabar Pelayanan GKPI Rawamangun -

Dalam rangka ibadah penghiburan terhadap keluarga Juven Habeahan/ Br. Marpaung, yang mewakili pengurus yaitu Pnt. Aris Simamora menyampaikan penghiburan bagi keluarga. Dalam kata penghiburannya disampaikan agar keluarga tetap berpengharapan kepada Tuhan. Kepada keluarga juga disampaikan agar mereka bersama dalam hubungan keluarga tetap menjaga hubungan harmonis.

Pnt. Mestan Simarmata juga menambahkan bahwa anggota jemaat yang hadir dalam ibadah penghiburan ini cukup banyak. Biarlah kehadiran jemaat malam ini menjadi ingatan kepada keluarga yang berduka bahwa banyak keluarga yang peduli dan merindukan keluarga Juven Habeahan/ Br. Marpaung dalam persekutuan di gereja ini.

IBADAH PENHIBURAN
Dikabarkan oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting tanggal :13-11-2019
Kabar Pelayanan GKPI Rawamangun -

Ibadah penghiburan dilaksanakan di GKPI Rawamangun bagi keluarga Juven Habeahan / Br. Marpaung. Orang tua Juven Habeahan, Op. Wendi Habeahan/Br. Simbolon, meninggal beberapa waktu lalu pada usia 69 tahun. Sebelumnya, almarhumah telah lama mengidap penyakit gula darah.

Kata penghiburan disampaikan oleh perwakilan jemaat. Dari kategorial perempuan disampaikan oleh Ny. Hutagalung Br. Simbolon, kategorial pria oleh Rommel Pakpahan. Sementara dari Penatua oleh Pnt.Aris Simamora. Pelayan ibadah antara lain oleh Pnt. Mannauli Sibuea Br. Hasibuan sebagai Liturgis, Doa Syafaat oleh Pnt. Mestan Simarmata dan Pelayan Firman oleh Pdt. Irvan Hutasoit. Nas Alkitab dalam ibadah penghiburan diambil dari Roma 14:7-9. Doa dan harapan jemaat, kiranya keluarga berduka dihibur dan dikuatkan Tuhan.

MEMBAYAR PAJAK
Dikabarkan oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting tanggal :12-09-2019
Kabar Pelayanan GKPI Rawamangun -

Kebaktian Lingkungan 10 yang dilaksanakan di rumah keluarga bapak Agus Panggabean, Jl. Komaruddin, Penggilingan. Dalam PA ini dibicarakan dan didiskusikan seperti apa peran anggota gereja dalam negara. Bolehkah warga gereja berpolitik?. Dalam diskusi dicapai kesepakatan bahwa anggota gereja boleh berpolitik. Tetapi dalam politik itu haruslah diusahakan kebaikan bagi bangsa ini. Untuk memperjuangkan kebaikan itulah maka gereja harus melengkapi anggotanya untuk mewujudkan kebaikan melalui partisipasi politiknya. Demikian juga halnya dengan pembayaran pajak. Pembayaran pajak adalah perwujudan dan partisipasi anggota jemaat melakukan kebaikan bagi bangsa ini.

HIKMAT YANG MERANGKUL
Dikabarkan oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting tanggal :18-08-2019
Kabar Pelayanan GKPI Rawamangun - Minggu 9 Set. Trinitatis yang dilaksanakan di GKPI Jemaat Khusus (Persiapan) Cipayung dilaksanakan di dalam terang tema, HIKMAT YANG MERANGKUL. Tema ini merujuk pada kesaksian Alkitab tentang hikmat Salomo dalam 1Raja 4:29-34. Hikmat Salomo menjelaskan dua hal sekaligus, yaitu pemuliaan Allah seta membuka diri pada fakta kehidupan yang juga dimiliki oleh ciptaaan lain. Hikmat yang merangkul ialah hidup yang memuliakan Allah sekaligus mendukung kehidupan yang lain. Ibadah dihadiri sekitar 60 orang.
DOA SALOMO MEMOHON HIKMAT
Dikabarkan oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting tanggal :19-07-2019
Kabar Pelayanan GKPI Rawamangun -

Sermon pada Minggu 4 Setelah Trinitatis diambil dari 1Raja 3:5-15. Bacaan ini berada dalam perikop yang oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) diberi judul, Doa Salomo memohon hikmat. Yang menyajikan bahan sermon adalah Pnt. Sumarjo Tambunan. Hingga kabar ini dikabarkan, sermon penatua masih berlangsung

PENGHARAPAN DAN KETAATAN
Dikabarkan oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting tanggal :11-07-2019
Kabar Pelayanan GKPI Rawamangun -

Ibadah di Lingkungan 7 kali ini yang bertempat di rumah keluarga bapak Harlen Butarbutar/Br. Malau bermuatan diskusi yang menarik. Diskusi berkisar pada prinsip utama dalam kekristenan, yaitu: iman, pengharapan, dan ketaatan. Tiga hal itu kait mengait terutama sebagai faktor pembentuk spritualitas. Memang, ada empat orang penanggap, yaitu: bapak Harlen Butarbutar, bapak Pnt. Maruhum Hutabarat, bapak Harapan Sidabutar, dan ibu Desiana Hutapea. Meski hanya empat penanggap, tetapi muatan tanggapannya justru sarat dengan pesan penting

Mengawali sesi diskusi, bapak Harlen Butarbutar membuka satu pernyataan. Ketaatan pada Allah adalah hal yang sangat sulit dipraktekkan. Mungkin saja dalam percakapan seperti dalam Pendalaman Alkitab, ketaatan sangatlah mudah dipercakapkan. Tetapi dalam kenyataan sehari-hari, ketaatan justru susah diwujudkan. Akibatnya, totalitas penyerahan diri kepada Allah kerap menjadi sikap minor dari perilaku orang percaya. Meskipun bapak Harlen Butarbutar seolah melempar pernyataan, tetapi justru mengandung pertanyaan.

Hal senada juga disampaikan oleh bapak Pnt. Maruhum Hutabarat. Beliau justru merujuk pada pandangan bahwa yang menguatkan hidup seseorang adalah pengharapan. Padahal, tanpa totalitas penyerahan diri kepada Allah mustahil seseorang itu memiliki pengharapan kepada Allah. Sebagai contoh, bapak Pnt. Maruhum Hutabarat mengisahkan seorang pekerja jermal di tengah laut yang terdampar lebih dari 40 hari. Mengapa dia tetap hidup ketika ditemukan di lautan luas, tanpa bekal makanan dan minuman? Pastilah, bahwa yang menguatkannya adalah pengharapan.

Bapak Harapan Sidabutar memberi respon. Dalam responnya, beliau menekankan bahwa ciri khas dan bahkan menjadi keunikan setiap orang yang percaya pada Yesus adalah pengharapan. Memang, manusia sering diperhadapkan dengan akal budi dan rasionalitas. Tetapi justru disitulah letak masalahnya. Bila manusia lebih menekankan akal budi dan rasionalitas mustahil totalitas penyerahan diri pada Allah dapat dimiliki oleh seseorang. Karenanya, ada saat tertentu kita harus mengabaikan akal budi dan rasionalitas.

Lantas, ibu Desiana Hutapea mencoba menyoroti fenomena perpindahan agama yang terjadi belakangan ini. Siapa yang salah? Apakah dia yang pindah agama itu karena imannya tidak kuat? Atau justru gereja yang tidak memperhatikan domba yang digembalakannya?

Menanggapi respon yang muncul dalam ibadah itu, Pdt. Irvan Hutasoit mencoba untuk melukiskan ulang, pengaruh apa yang dominan dalam tradisi kekristenan. Merunut pada pendekatan sejarah, dapat dipastikan bahwa rasionalitas Eropa banyak mempengaruhi cara beriman. Salah satu sifat rasionalitas Eropa ialah pada aspek pembuktian; sebab segala sesuatu yang tidak bisa dibuktikan mustahil dapat diterima sebagai kebenaran. Ternyata hal itu mempengaruhi cara beriman kita. Kita sibuk dan gemar mencoba membuktikan entitas Allah. Kadangkala pembuktian itulah unsur penguat totalitas penyerahan diri pada Allah. Padahal, Allah tidak perlu dibuktikan, tetapi dialami dalam realitas dan keseharian hidup. Karena hidup adalah pengalaman kehadiran Allah dalam sejarah kehidupan, maka di saat itu jugalah lahir totalitas penyerahan diri pada Allah. Kemudian, totalitas itu juga yang menumbuhkan pengharapan. Bila sudah demikian, maka pengharapan dan ketaatan akan muncul dalam diri seseorang. Seseorang itu tidak mudah lagi mengingkari atau meragukan keberadaan Allah.

Dalam ibadah Lingkungan 7 kali ini, Liturgis adalah Pnt. Maruhum Hutabarat; sementara Pemimpin PA adalah Pdt. Irvan Hutasoit.


ARSIP

Sidi: Apa dan Bagaimana [Lihat]

Mengalami Roh Kudus [Lihat]

Iman dan Kehidupan [Lihat]

Alfa dan Omega [Lihat]

Arsip Kabar | [Lihat] |


PENGUNJUNG KAMI