JEMAAT KHUSUS RAWAMANGUN

Media Informasi dan Komunikasi Anggota Jemaat

Waktu Sekarang: 05-08-2020 16:50:09 pm

Selamat Datang di Media Informasi dan Komunikasi GKPI Rawamangun. Berselancar di media ini, sila pilih pilihan pada menu di bawah
BERANDA BERITA PHOTO

Sapaan Sabda

MENJADI SAHABAT BAGI SEMUA ORANG
Yohanes 15:14-15
Penulis |Pdt. Irvan Hutasoit|

Malam ini kita merayakan peristiwa monumental, yaitu malam Natal. Bagi gereja, malam ini adalah momentum peringatan kelahiran Yesus di dunia ini. Tetang kelahiran Yesus, saya ingin menjelaskan cara pandang kita terhadap Dia. Di tengah polemik boleh atau tidak bagi umat Islam menyampaikan selamat Natal, seorang ulama memberi penjelasan. Dalam penjelasannya, dia menguraikan tentang pelanggaran aqidah bila mengucapkan selamat Natal, yaitu pengakuan pada kelahiran seorang manusia yang diyakini sebagai Tuhan. Jelas ini adalah sebuah kesalahan logika akibat kedangkalan untuk memahami keyakinan yang lain.

Kita meyakini Yesus sebagai Tuhan bukan setelah kelahiranNya. Sebelum kelahiranNya, Dia adalah Tuhan (Yohanes 1:1, 14). Bahkan karena Dia adalah Tuhan Sang Pencipta maka Dia berkenan lahir ke dunia dan mengambil rupa seorang manusia. Modus yang mendorong tindakan Allah yang menjadi manusia adalah cinta yang ada pada diriNya. Bagi agama-agama lain, Tuhan itu adalah Sang Ilahi yang menciptakan dan mengambil jarak dengan manusia. Tetapi Tuhan yang kita imani itu adalah Sang Ilahi atau Sang Absolut yang menyatu dengan kita. Dia tidak mau ada jarak yang menganga antara diriNya dengan manusia. Jadi, ke-Tuhan-an Yesus tidak terjadi sesudah Dia lahir. Jauh sebelum kelahiranNya, Dia adalah Tuhan.

Malam ini, kita akan merenungkan tema yang sangat menggelegar. Tema ini adalah suatu jawaban singkat terhadap masalah dalam peradaban umat manusia sekarang ini. Sudah terlalu lama komunitas hidup manusia hidup dalam perseberangan dua kutub yang berbeda, ibarat timur dan barat atau selatan dan utara. Seolah perbedaan tidak bisa lagi dijembatani. Keberagaman seakan gambaran permusuhan. Maka kita tidak perlu heran bila belakangan ini ujaran kebencian, permusuhan dan sinisme terhadap sesuatu yang berbeda sangat mudah dijumpai. Sebaliknya, hidup yang merangkul sulit kita rasakan. Disinilah makna tema natal tahun ini.

Ada dua simbol kata dipakai dalam nas yang menjadi dasar dari tema malam natal ini, yaitu kata sahabat dan hamba. Dua simbol kata tersebut menggambarkan relasi antar pihak di zaman itu. Sahabat adalah pihak yang terintegrasi dan menyatu (bnd. Amsal 17:17, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran”). Sementara hamba adalah pihak yang diasingkan dan terpisah. Ternyata, Tuhan tidak mau bila kita terpisah atau terasing dariNya. Itu adalah sikap Allah yang mau mengubah status relasi kita dengan Dia. Di hadapanNya, kita bukanlah hamba tetapi sahabat. Dia tidak mau membuat kita terpisah dariNya. Sebaliknya, Dia mau menyatukan diri dengan kita. Sikap tersebut tergambar dalam nas bacaan ini ketika Dia berkata, “Kamu adalah sahabat-Ku ...”

Ini adalah kebahagiaan kita sebagai orang yang percaya kepada Yesus. Kita percaya pada Tuhan yang tidak mau menciptakan batas serta membuat pemisah dengan manusia. Saat Dia berkata bahwa kita adalah sahabatNya, maka kita bisa memaknainya bahwa Dia hadir dalam dinamika hidup yang kita lalui. Dia bukan Allah yang memisahkan diri dari dinamika hidup kita. Dia adalah Allah yang menyatu dengan kita. Misalnya, dalam kegembiraan kita, Dia hadir disana; dalam kesedihan dan pergumulan kita, Dia menyatu disitu.

Selain dua simbol kata yang sudah saya sebutkan tadi, ada satu pernyataan penting yang tidak bisa kita abaikan dari bacaan ini. Ayat 14 berkata bahwa kita adalah sahabatNya bila sudah melakukan apa yang Dia perintahkan. Maka, bila kita memperoleh keselamatan melalui cara persahabatan dengan Dia, maka kita harus mengerjakan keselamatan kita itu. Keselamatan itu dikerjakan juga melalui cara yang sudah Dia lakukan, yaitu persahabatan. Keselamatan itu harus diwujudkan dengan cara menjadikan yang lain menjadi sahabat kita.

Di tengah situasi peradaban kita yang kerap dilanda oleh permusuhan, sinisme, dan kebencian, maka tema ini adalah jawaban yang sangat relevan. Keselamatan yang telah dinyatakan Tuhan melalui kelahiran Yesus ke dunia ini mestilah terwujud bila kita secara pribadi adalah orang yang mau menyatukan diri dalam keberagaman; pribadi yang tidak mau memisahkan atau mengasingkan diri dari yang lain. Itulah keselematan yang harus kita kerjakan. Itulah pesan tema bagi kita saat ini. Selamat Natal dan Tuhan Memberkati.

Kategori | Kebaktian Lain-Lain|

Sila Unduh Informasi Pelayanan Tahun 2019


DUKUNGAN DOA BAGI JEMAAT SAKIT
NO NAMA KETERANGAN
1 Ny. Siagian Br. Manalu Perawatan di rumah
2 Ny. L. Sinaga Br. Hutagalung Perawatan di rumah
3 B. Dj. Simatupang Perawatan di rumah
4 Ny. R. Lbn. Tobing Br. Sitompul Perawatan di rumah
5 Ny. Matondang Br. Simatupang Perawatan di rumah
6 Ny. Simanjuntak Br. Napitupulu Perawatan di rumah
7 Ny. Hutagalung Br. Simanjuntak Perawatan di rumah
8 Ny. Hutapea Br. Siahaan Perawatan di rumah
9 Rahmat Hutabarat Perawatan di rumah
10 Ny. Naiborhu Br Sinaga Perawatan di rumah
11 Pnt. (Em.) Ny. Drh. Aida Sirait Br. Siagian Perawatan di rumah
12 Ny. Sagala Br. Limbong Perawatan di rumah
13 Ny. Verysa Sinaga Br. Siahaan Perawatan di rumah
14 Ny. Sinaga Br. Hutapea Perawatan di rumah
15 Pnt. (Em.). Ny. R.L. Tobing Br. Situmeang Perawatan di rumah
16 Ny. Pakpahan Br. Nainggolan Perawatan di rumah
17 Ny. Melva Simamora Br. Hutasoit Perawatan di rumah
18 Pnt. (Em). J. Hutagalung Perawatan di rumah
19 Pnt. (Em.) A. Simanungkalit Perawatan di rumah
20 Victor M. Panggabean Perawatan di rumah
21 S.M. Aritonang Perawatan di rumah
22 Godlim Panggabean Perawatan di rumah
23 Ny. Sihotang Br. Sitompul Perawatan di rumah
24 Ny. Sihite Br. Simanungkalit Perawatan di rumah
25 Kesya Br. Hutagalung RS. Hermina, Malang - Jawa Timur
PELAYANAN KAMI

Pelayanan di GKPI Rawamangun terdiri dari:

  1. Ibadah Minggu Pagi, Pukul: 07.00 WIB
  2. Ibadah Minggu Siang, Pukul: 09.30 WIB
  3. Ibadah Sekolah Minggu, Pukul: 07.15 WIB
  4. Ibadah Lingkungan, hari Selasa & Rabu, Pukul: 19.00 WIB
  5. PA Seksi Perempuan, hari Kamis, Pukul: 16.30 WIB
  6. Kelompok Tumbuh Bersama Seksi Remaja, hari Sabtu, Pukul: 15.00 WIB
  7. PA Seksi Pemuda, setiap hari Sabtu minggu keempat, Pukul: 19.00

Latihan Paduan Suara:

  1. Paduan Suara Serafim, hari Kamis, Pukul: 17.30 WIB
  2. Paduan Suara Maranatha, hari Jumat, Pukul: 20.00 WIB
  3. Paduan Suara Remaja, hari Sabtu, Pukul: 16.00 WIB
  4. Paduan Suara Pemuda, hari Sabtu, Pukul: 19.00 WIB
  5. Paduan Suara Conspirito, hari Sabtu, Pukul: 19.00 WIB
  6. Paduan Suara Gita Eklesia, hari Minggu, Pukul: 12.00 WIB

KUNJUNGI KAMI


HUBUNGI KAMI

Kami menyiapkan fasilitas online bagi anda bila membutuhkan pelayanan. Sila KLIK bila ingin mengajukan permohonan pelayanan

KABAR PELAYANAN
PENGHIBURAB KELUARGA (ALM.) KARLOS SIALLAGAN
Dikabarkan oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting tanggal :14-11-2019
Kabar Pelayanan GKPI Rawamangun -

Ibadah penghiburan dilaksanakan bagi keluarga (alm.) Karlos Siallagan. Almarhum meninggal pada usia 60 tahun meninggalkan Isteri dan tiga orang anak (Michael, Abednego, dan Olin). Nas Alkitab dalam ibadah ini diambil dari Roma 14:7-9. Ibadah penghiburan ini dilayani oleh Pnt. Freddy Siringoringo sebagai Liturgis, Pnt. Henry Sinaga membawakan Doa Syafaat, dan Pdt. Irvan Hutasoit sebagai pengkhotbah. Sementara ucapan penghiburan disampaikan oleh Pnt. Ida Pakpahan Br. Hutauruk dari Seksi Perempuan, Metana Panjaitan dari Pemuda-i, Ny. Sihombing Br. Marpaung dari Lingkungan 8 dan Pnt. Salim Panggabean dari Majelis Jemaat.

EMPATI PADA KEMATIAN
Dikabarkan oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting tanggal :13-11-2019
Kabar Pelayanan GKPI Rawamangun -

Dalam rangka ibadah penghiburan terhadap keluarga Juven Habeahan/ Br. Marpaung, yang mewakili pengurus yaitu Pnt. Aris Simamora menyampaikan penghiburan bagi keluarga. Dalam kata penghiburannya disampaikan agar keluarga tetap berpengharapan kepada Tuhan. Kepada keluarga juga disampaikan agar mereka bersama dalam hubungan keluarga tetap menjaga hubungan harmonis.

Pnt. Mestan Simarmata juga menambahkan bahwa anggota jemaat yang hadir dalam ibadah penghiburan ini cukup banyak. Biarlah kehadiran jemaat malam ini menjadi ingatan kepada keluarga yang berduka bahwa banyak keluarga yang peduli dan merindukan keluarga Juven Habeahan/ Br. Marpaung dalam persekutuan di gereja ini.

IBADAH PENHIBURAN
Dikabarkan oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting tanggal :13-11-2019
Kabar Pelayanan GKPI Rawamangun -

Ibadah penghiburan dilaksanakan di GKPI Rawamangun bagi keluarga Juven Habeahan / Br. Marpaung. Orang tua Juven Habeahan, Op. Wendi Habeahan/Br. Simbolon, meninggal beberapa waktu lalu pada usia 69 tahun. Sebelumnya, almarhumah telah lama mengidap penyakit gula darah.

Kata penghiburan disampaikan oleh perwakilan jemaat. Dari kategorial perempuan disampaikan oleh Ny. Hutagalung Br. Simbolon, kategorial pria oleh Rommel Pakpahan. Sementara dari Penatua oleh Pnt.Aris Simamora. Pelayan ibadah antara lain oleh Pnt. Mannauli Sibuea Br. Hasibuan sebagai Liturgis, Doa Syafaat oleh Pnt. Mestan Simarmata dan Pelayan Firman oleh Pdt. Irvan Hutasoit. Nas Alkitab dalam ibadah penghiburan diambil dari Roma 14:7-9. Doa dan harapan jemaat, kiranya keluarga berduka dihibur dan dikuatkan Tuhan.

MEMBAYAR PAJAK
Dikabarkan oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting tanggal :12-09-2019
Kabar Pelayanan GKPI Rawamangun -

Kebaktian Lingkungan 10 yang dilaksanakan di rumah keluarga bapak Agus Panggabean, Jl. Komaruddin, Penggilingan. Dalam PA ini dibicarakan dan didiskusikan seperti apa peran anggota gereja dalam negara. Bolehkah warga gereja berpolitik?. Dalam diskusi dicapai kesepakatan bahwa anggota gereja boleh berpolitik. Tetapi dalam politik itu haruslah diusahakan kebaikan bagi bangsa ini. Untuk memperjuangkan kebaikan itulah maka gereja harus melengkapi anggotanya untuk mewujudkan kebaikan melalui partisipasi politiknya. Demikian juga halnya dengan pembayaran pajak. Pembayaran pajak adalah perwujudan dan partisipasi anggota jemaat melakukan kebaikan bagi bangsa ini.

HIKMAT YANG MERANGKUL
Dikabarkan oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting tanggal :18-08-2019
Kabar Pelayanan GKPI Rawamangun - Minggu 9 Set. Trinitatis yang dilaksanakan di GKPI Jemaat Khusus (Persiapan) Cipayung dilaksanakan di dalam terang tema, HIKMAT YANG MERANGKUL. Tema ini merujuk pada kesaksian Alkitab tentang hikmat Salomo dalam 1Raja 4:29-34. Hikmat Salomo menjelaskan dua hal sekaligus, yaitu pemuliaan Allah seta membuka diri pada fakta kehidupan yang juga dimiliki oleh ciptaaan lain. Hikmat yang merangkul ialah hidup yang memuliakan Allah sekaligus mendukung kehidupan yang lain. Ibadah dihadiri sekitar 60 orang.
DOA SALOMO MEMOHON HIKMAT
Dikabarkan oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting tanggal :19-07-2019
Kabar Pelayanan GKPI Rawamangun -

Sermon pada Minggu 4 Setelah Trinitatis diambil dari 1Raja 3:5-15. Bacaan ini berada dalam perikop yang oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) diberi judul, Doa Salomo memohon hikmat. Yang menyajikan bahan sermon adalah Pnt. Sumarjo Tambunan. Hingga kabar ini dikabarkan, sermon penatua masih berlangsung

PENGHARAPAN DAN KETAATAN
Dikabarkan oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting tanggal :11-07-2019
Kabar Pelayanan GKPI Rawamangun -

Ibadah di Lingkungan 7 kali ini yang bertempat di rumah keluarga bapak Harlen Butarbutar/Br. Malau bermuatan diskusi yang menarik. Diskusi berkisar pada prinsip utama dalam kekristenan, yaitu: iman, pengharapan, dan ketaatan. Tiga hal itu kait mengait terutama sebagai faktor pembentuk spritualitas. Memang, ada empat orang penanggap, yaitu: bapak Harlen Butarbutar, bapak Pnt. Maruhum Hutabarat, bapak Harapan Sidabutar, dan ibu Desiana Hutapea. Meski hanya empat penanggap, tetapi muatan tanggapannya justru sarat dengan pesan penting

Mengawali sesi diskusi, bapak Harlen Butarbutar membuka satu pernyataan. Ketaatan pada Allah adalah hal yang sangat sulit dipraktekkan. Mungkin saja dalam percakapan seperti dalam Pendalaman Alkitab, ketaatan sangatlah mudah dipercakapkan. Tetapi dalam kenyataan sehari-hari, ketaatan justru susah diwujudkan. Akibatnya, totalitas penyerahan diri kepada Allah kerap menjadi sikap minor dari perilaku orang percaya. Meskipun bapak Harlen Butarbutar seolah melempar pernyataan, tetapi justru mengandung pertanyaan.

Hal senada juga disampaikan oleh bapak Pnt. Maruhum Hutabarat. Beliau justru merujuk pada pandangan bahwa yang menguatkan hidup seseorang adalah pengharapan. Padahal, tanpa totalitas penyerahan diri kepada Allah mustahil seseorang itu memiliki pengharapan kepada Allah. Sebagai contoh, bapak Pnt. Maruhum Hutabarat mengisahkan seorang pekerja jermal di tengah laut yang terdampar lebih dari 40 hari. Mengapa dia tetap hidup ketika ditemukan di lautan luas, tanpa bekal makanan dan minuman? Pastilah, bahwa yang menguatkannya adalah pengharapan.

Bapak Harapan Sidabutar memberi respon. Dalam responnya, beliau menekankan bahwa ciri khas dan bahkan menjadi keunikan setiap orang yang percaya pada Yesus adalah pengharapan. Memang, manusia sering diperhadapkan dengan akal budi dan rasionalitas. Tetapi justru disitulah letak masalahnya. Bila manusia lebih menekankan akal budi dan rasionalitas mustahil totalitas penyerahan diri pada Allah dapat dimiliki oleh seseorang. Karenanya, ada saat tertentu kita harus mengabaikan akal budi dan rasionalitas.

Lantas, ibu Desiana Hutapea mencoba menyoroti fenomena perpindahan agama yang terjadi belakangan ini. Siapa yang salah? Apakah dia yang pindah agama itu karena imannya tidak kuat? Atau justru gereja yang tidak memperhatikan domba yang digembalakannya?

Menanggapi respon yang muncul dalam ibadah itu, Pdt. Irvan Hutasoit mencoba untuk melukiskan ulang, pengaruh apa yang dominan dalam tradisi kekristenan. Merunut pada pendekatan sejarah, dapat dipastikan bahwa rasionalitas Eropa banyak mempengaruhi cara beriman. Salah satu sifat rasionalitas Eropa ialah pada aspek pembuktian; sebab segala sesuatu yang tidak bisa dibuktikan mustahil dapat diterima sebagai kebenaran. Ternyata hal itu mempengaruhi cara beriman kita. Kita sibuk dan gemar mencoba membuktikan entitas Allah. Kadangkala pembuktian itulah unsur penguat totalitas penyerahan diri pada Allah. Padahal, Allah tidak perlu dibuktikan, tetapi dialami dalam realitas dan keseharian hidup. Karena hidup adalah pengalaman kehadiran Allah dalam sejarah kehidupan, maka di saat itu jugalah lahir totalitas penyerahan diri pada Allah. Kemudian, totalitas itu juga yang menumbuhkan pengharapan. Bila sudah demikian, maka pengharapan dan ketaatan akan muncul dalam diri seseorang. Seseorang itu tidak mudah lagi mengingkari atau meragukan keberadaan Allah.

Dalam ibadah Lingkungan 7 kali ini, Liturgis adalah Pnt. Maruhum Hutabarat; sementara Pemimpin PA adalah Pdt. Irvan Hutasoit.


ARSIP

Sidi: Apa dan Bagaimana [Lihat]

Mengalami Roh Kudus [Lihat]

Iman dan Kehidupan [Lihat]

Alfa dan Omega [Lihat]

Arsip Kabar | [Lihat] |


PENGUNJUNG KAMI