Lights
GKPI JEMAAT KHUSUS RAWAMANGUN
Jalan Belanak VI No. 26b. Kelurahan Jati - Kecamatan Pulo Gadung. Jakarta Timur
Email: gkpi.rawamangun@yahoo.com
Selamat Datang di Media Informasi dan Komunikasi GKPI Rawamangun
ALFA DAN OMEGA

Pdt. Irvan Hutasoit


Sesungguhnya, hidup manusia berada di antara dua fase, yaitu masa lalu dan masa depan. Setiap waktu bergulir atau berjalan, kita tidak bisa lepas dari dua fase tersebut. Misalnya, saat kita sedang berada pada masa kini, maka seiring berjalannya waktu secara garis lurus ke depan, maka masa kini itu akan ditinggalkan dan menjadi masa lalu di masa akan datang. Begitulah adanya kehidupan ini. Sangat dinamis. Perubahan masa kini menjadi masa lalu, itu seiring dengan berjalannya waktu. Tetapi yang jelas adalah, kita tetap berada di antara dua fase tadi, masa lalu dan masa depan.

Huruf pertama dalam literasi Yunani adalah alfa, dan huruf terakhir adalah omega. Dua huruf ini tidaklah terpisah. Keduanya dihubungkan dan disambung oleh huruf-huruf yang berada di antaranya. Sehingga antara huruf alpha dan omega menjadi satu kesatuan yang diikat oleh deretan huruf yang mengantarai keduanya. Begitulah kehidupan ini. Masa lalu tidak terpisah dengan masa depan. Dua fase itu akan terhubung oleh apa yang terjadi di antara masa lalu dan masa depan tersebut. Kemudian, masa kini adalah sesuatu yang terhubung dengan masa lalu sekaligus juga dengan masa depan.

Ternyata penggunaan dua huruf Yunani yang menjadi judul tulisan singkat ini juga diletariskan dalam teks Alkitab. Misalnya dalam Wahyu 22:12-17, terutama pada ayat 13 berkata: "Akulah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir". Kata ganti orang pertama tunggal pada ayat 13 itu, yakni kata "Aku", merujuk pada Allah yang mewahyukan diriNya kepada Yohanes yang sedang dipenjara di Pulau Patmos. Jadi, bila kata ganti orang pertama tunggal itu, "Akulah", kita artikan sebagai Allah, maka ayat 13 itu menegaskan, Allah adalah Alfa dan Omega. Allah adalah Yang Awal dan Yang Akhir.

Menghubungkan pemaknaan dua fase kehidupan manusia dengan pernyataan Allah tentang diriNya sebagai 'Alfa' dan 'Omega' sangatlah penting. Penggunaan dua kata yang mengawali dan mengakhiri deret huruf dalam aksara Yunani itu memberi makna bahwa Allah adalah pemegang otoritas dalam sejarah kehidupan semesta. Kalau di atas sudah kami jelaskan bahwa kehidupan semesta berada pada dua fase, masa lalu dan masa depan, maka kedua fase itu berada dalam genggaman dan otoritas Allah. Nah, kita yang hidup saat ini haruslah menghubungkan diri dengan yang lalu itu, Yang Mengawali semesta; sekaligus dengan yang akan datang, Yang Mengakhiri semesta.

Bagaimana mewujudkannya? Berangkat dari kata 'Alfa', maka kita harus menjadikan Allah sebagai dasar dari segala sesuatu pada masa kini. Allah yang menginisiasi segala sesuatu apa yang ada dalam pikiran kita juga apa yang kita lakukan pada masa kini. Dia menjadi logos bagi kita. Dia menjadi prinsip dan nilai kehidupan pada masa kini. Kemudian, dari kata 'Omega', maka kita harus menjadikan Allah sebagai tujuan dari segala sesuatu pada masa kini. Allah menjadi subjek tujuan pikiran dan tindakan kita. Dia menjadi telos bagi kita. Segala sesuatu yang kita pikirkan, juga yang kita lakukan, tujuannya hanya pada Allah.

Bila demikian, maka kehidupan kita saat ini terhubung pada Allah karena Dialah awal dari motivasi sekaligus dasar berpikir dan bertindak. Sekaligus juga, Dia menjadi tujuan dari pikiran dan tindakan kita. Kerangka spritualitas seperti ini menjadi melahirkan penghayatan bahwa Allah hadir dalam sejarah kehidupan pada masa kini. Dia hadir karena apapun yang kita pikirkan serta yang kita lakukan, didasarkan pada Allah sekaligus juga ditujukan pada Allah. Allah menjadi imanen dalam hidup keseharian kita; sekaligus juga transenden sebab pikiran dan karya kita di dunia ini, tidak didasarkan serta tidak ditujukan pada kemanusiaan kita semata. Tetapi, semuanya didasarkan dan ditujukan pada Allah. Bahkan, itu menjadi wujud penghormatan pada kewibawaan Allah.

John Zizoulas, seorang teolog Orthodox berpendapat bahwa manusia adalah person sekaligus juga individual. Fakta menunjukkan bahwa manusia itu hidup dalam dirinya sendiri (individual). Ternyata itu tidak cukup. Manusia juga harus terhubung, membentuk komunitas bersama yang lain (person). Meneladani Allah, yang merdeka membangun hubungan dengan manusia; maka manusiapun merdeka membangun hubungan dengan sesama dan Allah. Untuk itulah, kita didorong tidak saja sebagai manusia individual, tetapi juga menjadi manusia person, yang menghubungkan dirinya pada Allah; menhubungkan pikirannya pada Allah; menghubungkan tindakannya pada Allah. Yang menjadikan Allah sebagai dasar dari segala sesuatu yang dipikirkan dan dilakukan. Sekaligus juga, menjadikan Allah sebagai tujuan dari segala sesuatu yang dipikirkan dan dilakukan. Semoga.




KABAR PELAYANAN


Connection failed: Access denied for user 'gkpk3977'@'localhost' (using password: YES)