Lights
GKPI JEMAAT KHUSUS RAWAMANGUN
Jalan Belanak VI No. 26b. Kelurahan Jati - Kecamatan Pulo Gadung. Jakarta Timur
Email: gkpi.rawamangun@yahoo.com
Selamat Datang di Media Informasi dan Komunikasi GKPI Rawamangun
IMAN DAN KEHIDUPAN
(Kejadian 22:1-12)

Pdt. Irvan Hutasoit


Kehidupan ibarat roda yang berputar menapaki setiap jengkal jalan hidup. Setiap jengkal yang sudah dilalui meninggalkan jejak, yaitu pengalaman hidup. Dan hamparan jalan yang akan ditempuh membutuhkan pengharapan yang mesti diisi oleh kekuatan, yaitu iman. Itulah pokok perenungan kita saat ini terutama memasuki gerbang minggu-minggu Trinitatis, yaitu minggu terpanjang dalam kalender gereja.

Ketika kaki kita sedang berdiri di gerbang minggu Trinitatis, kisah yang mencetarkan hati menjadi perenungan. Dikisahkan dalam Kejadian 22, Abraham diperintahkan Tuhan menjadikan Ishak, anak satu-satunya itu, menjadi objek atau kurban persembahan bakaran kepada Tuhan. Tidak ada perbantahan Abraham meskipun dia mengetahui bahwa anaknya, Ishak itu, harus mengakhiri hidup di tangannya sendiri; pun itu diselimuti sebagai persembahan kepada Tuhan. Semua berjalan senyap dan hening. Di pihak lainpun demikian. Ishak sebagai objek kurban hanya mengajukan satu pertanyaan kepada ayahnya, "Disini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?" (ayat 7) . Pertanyaan lain tidak terdengar.

Menjadi teka-teki yang menarik untuk dipecahkan, mengapa Abraham sepatuh itu? Mengapa Abraham tidak risau dengan perintah Tuhan itu? Padahal bila dibandingkan sebelum kelahiran Ishak, Abraham pernah mengungkapkan kegalauan hatinya perihal penantian kelahiran seorang anak. Kegalauan hati Abraham dicatat dalam Kejadian 15:2, "... Ya Tuhan ALLAH, apakah yang anak Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak ..." Kini, ketika anaknya lahir, konon pula Tuhan meminta agar dipersembahkan sebagai kurban bakaran. Anehnya, Abraham tidak menunjukkan kegalauan seperti dicatatkan pada Kejadian 15:2. Abraham dengan senyap dan hening menerima perintah Tuhan serta berniat kuat untuk melaksanakannya.

Respon senyap dan hening Abraham dalam Kejadian 22 ini tidaklah berdiri sendiri. Perlu ada usaha penelusuran yang lebih luas mengapa respon Abraham menerima perintah Tuhan itu, senyap dan hening. Ada satu ayat yang penting setelah Abraham mengungkapkan kegalauannya kepada Tuhan seperti sudah saya kutip dari Kejadian 15 di atas. Kelanjutan percakapan yang mencetarkan hati antara Tuhan dan Abraham, Tuhan berkata kepada Abraham, "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firmanNya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu" (Kejadian 15:6). Setelah Tuhan berkata demikian, ayat selanjutnya (ayat 6) berkata: "Lalu percayalah Abraham kepada TUHAN..." Kata 'percaya' di ayat 6 itu, selanjutnya banyak mempengaruhi kepribadian Abraham [karena kata 'percaya' pula, mengapa Abraham tidak melakukan perbantahan ketika dia menjamu tiga orang utusan Tuhan dalam kemahnya. (baca: Kejadian 18)]

Kata 'percaya' dalam bahasa Ibrani dihubungkan dengan kata "amen", sebab kata tersebut diterjemahkan dari kata aman. Kata itu dapat juga diartikan dengan konfirmasi dan pembuktian pada kebenaran. Respon Abraham setelah Tuhan memerintahkan untuk menghitung bintang tersebut adalah 'percaya' pada Tuhan. Tentulah Abraham tidak bisa menghitung bintang di langit, dan disitulah letak makna kata 'percaya' tersebut; bahwa Abraham menjadikan Tuhan sebagai kebenaran. Tuhan sebagai kebenaran adalah jawaban terhadap keterbatasan, kehampaan, dan ketidakpastian manusia itu sendiri. Itulah yang membentuk kepribadian Abraham sehingga kepatuhannya terhadap perintah Tuhan untuk mempersembahkan Ishak adalah solusi keterbatasannya itu. Abraham tidak mendahului Tuhan. Sebaliknya, dia membiarkan Tuhan yang mendahuluinya. Abraham tidak berburuk sangka kepada Tuhan. Sebaliknya, dia mempercayakan diri kepadaNya. Saya kira, disinilah letak iman yang paling mendasar. Tuhan sebagai kebenaran, yang melampaui kebenaran yang dimiliki oleh manusia. Tuhan sebagai kebenaran yang mengatasi seluruh perjalanan hidup manusia.

Soren Kierkegaard, seorang filsuf kebangsaan Denmark, mencoba mengurai mengapa seseorang itu beriman. Dari hasil penemuannya itu, filsuf yang menggunakan nama samaran Johannes Selentino itu berpendapat bahwa iman bisa saja diakibatkan oleh kekuatiran dan ketakutan. Akibat ketidakmampuan manusia mengatasi kekuatiran dan ketakutan, maka iman adalah pelarian. Resikonya, iman tidak lain sekedar pelarian. Bila seperti itu yang terjadi, iman tidak ada bedanya hanya sebatas kompensasi yang menjauhkan manusia itu dari kehidupan. Tetapi untuk kasus Abraham berbeda. Dia tidak menempatkan iman sebagai kompensasi. Justru iman diletakkan sebagai kesadaran pada ketidakmampuan dan keterbatasan sehingga menjadikan Tuhan sebagai kebenaran mutlak yang berjalan di depannya. Karena Tuhan menjadi kebenaran, maka kegalauan dapat diatasi. Keraguan dapat dikendali. Bahkan, ketakutan dan kekuatiran dapat dilampaui. Sehingga, iman justru menguatkan manusia menapaki kehidupan.

Di minggu Trinitatis ini, kisah tentang Abraham yang mempersembahkan anaknya, Ishak, menjadi metode kehidupan bagi kita. Janganlah sekali-kali beriman karena munculnya ketakutan dalam hidup. Tetapi, berimanlah kepada Tuhan agar ketakutan itu teratasi. Jangan pula beriman karena rasa kuatir ibarat tembok yang menghempang kehidupan. Tetapi, berimanlah kepada Tuhan agar kekuatiran itu dapat dilalui. Intinya, iman bukan kompensasi kegagalan ataupun ketakutan. Iman adalah kekuatan mengatasi kegagalan atau ketakutan agar itu jangan sampai menjadi bayang-bayang yang mencekamkan kehidupan kita.



KABAR PELAYANAN


Connection failed: Access denied for user 'gkpk3977'@'localhost' (using password: YES)