JEMAAT KHUSUS RAWAMANGUN

Media Informasi dan Komunikasi Anggota Jemaat

Selamat Datang di Media Informasi dan Komunikasi GKPI Rawamangun. Berselancar di media ini, sila pilih pilihan pada menu di bawah

Klik menu dibawah untuk melihat rencana kegiatan Perayaan Natal GKPI Jemaat Khusus Rawamangun 2019


MENGENAL HIMNE NATAL: Malam Kudus

30-11-2019

Tidak lengkap rasanya bila saat perayaan natal himne Malam Kudus dihilangkan dari ibadah. Saya mau berbagi pengalaman tentang hal ini. Ketika masih pendeta praktek, atau lazimnya disebut vikar di GKPI Jemaat Khusus Lubuk Paka Kota, Kabupaten Deli Serdang, saya dengan sengaja tidak mencantumkan lagu itu dalam nyanyian ibadah Malam Natal. Apa yang terjadi sesudah itu? Semua jemaat bertanya-tanya, mengapa himne itu tidak dinyanyikan. Alasan mereka, seperti tidak merayakan natal kalau himne yang mengguncangkan hati itu tidak dinyanyikan. Artinya, himne Malam Kudus adalah trade mark perayaan natal. Bila tidak dinyanyikan dalam ibadah ibarat sayur tanpa garam, hambar tidak ada rasa

Apa sebenarnya latar belakang himne itu? Setelah melalui penelusuran di berbagai sumber, ternyata ada fakta menarik dibaliknya. Malam Kudus adalah sebuah Kidung Natal tradisional yang populer. Kata-kata lagu ini aslinya yang berjudul Stille Nacht ditulis dalam bahasa Jerman oleh seorang pastor Austria Fr. Josef Mohr sementara lagunya disusun oleh pemimpin paduan suara Austria Franz X. Gruber. Versi melodinya yang biasanya dinyanyikan sekarang agak berbeda sedikit (khususnya dalam bagian akhirnya) dari lagu aslinya karangan Gruber.

Lagu ini pertama kali dibawakan di Nicola-Kirche (Gereja St. Nikolas) di Oberndorf, Austria pada 25 Desember 1818. Sebelumnya, Mohr sudah menyusun kata-katanya pada 1816, tetapi pada malam Natal ia membawanya ke Gruber dan memintanya untuk menyusun melodinya serta iringan gitarnya untuk lagu itu. Hal ini disebabkan karena orgel di Nicola-Kirche sedang rusak malam itu. Mulanya, Gruber tidak setuju dengan usul Mohr karena ia khawatir bahwa orang-orang yang datang ke gereja itu tidak akan menyukai musiknya yang dimainkan dengan gitar. Tetapi ia tak dapat berbuat apa-apa. Gruber akhirnya menerima usul Mohr dan mengerjakan musiknya. Ketika musiknya selesai disusun, misa hanya tinggal beberapa jam saja. Mulanya orang-orang yang datang ke gereja itu terheran-heran mendengarkan musik itu dibawakan dengan gitar, tetapi mereka segera terpesona oleh melodinya yang indah.

Nicola-Kirche dihancurkan pada awal 1900-an karena rusak akibat banjir dan karena pusat kota itu dipindahkan ke hulu sungai yang lokasinya lebih aman, dengan sebuah gereja baru yang dibangun di sana dekat jembatan yang baru. Sebuah kapel kecil, yang disebut Stille-Nacht-Gedächtniskapelle (Kapel Peringatan Malam Kudus), dibangun di tempat gereja lama yang sudah dibongkar dan sebuah rumah di dekatnya dijadikan museum, menarik banyak wisatawan dari seluruh dunia sepanjang tahun, tetapi terutama di bulan Desember.

Manuskrip aslinya telah hilang, tetapi sebuah manuskrip yang ditemukan pada 1995 ditulis tangan oleh Mohr dan diperkirakan oleh para peneliti berasal dari sekitar tahun 1820. Manuskrip ini memperlihatkan bahwa Mohr menulis kata-katanya pada 1816 ketika ia ditempatkan di sebuah gereja peziarah di Mariapfarr, Austria, dan bahwa musiknya dikarang oleh Gruber pada 1818. Ini adalah naskah tertua yang ada dan satu-satunya yang ditulis oleh Mohr. Komposisi Gruber dipengaruhi oleh tradisi musik daerah pedesaan tempat tinggalnya. Melodi Malam Kudus mirip dengan aspek-aspek musik rakyat dan yodeling Austria. Sebuah cerita populer mengklaim bahwa setelah dibawakan, lagu Natal ini segera terlupakan. Baru ketika seorang reparasi orgel menemukan naskah ini pada 1825 dan menghidupkannya kembali. Namun Gruber menerbitkan berbagai aransemen dari lagu ini sepanjang hidupnya, dan kini kita memiliki kumpulan aransemen Mohr (sekitar 1820) yang disimpan di Museum Carolino Augusteum di Salzburg.

Cerita tentang asal usul himne Malam Kudus ini kiranya mengingatkan kita tentang hal yang tidak kalah penting di balik sejarah lahirnya lagu itu. Kesederhanaan dan komitmen untuk memberi yang terbaik adalah poin utamanya. Bisa saja saat itu Josef Mohr mengabaikan rusaknya orgel gereja. Namun, pikirannya tidak seperti itu. Sepertinya ada kerinduan dalam hatinya untuk memberi yang terbaik di malam Natal tahun 1816. Himne ini sangat sederhana tetapi menggugah hati. Baiklah dari lagu ini kita belajar arti kesederhanaan, sekaligus komitmen tinggi untuk memberi yang terbaik. Tuhan memberkati kita

Disarikan dari berbagai sumber

Pdt. Irvan Hutasoit

ARSIP
MENGENAL HIMNE NATAL: Malam Kudus
30-11-2019
Pdt. Irvan Hutasoit
RENCANA KEGIATAN NATAL TAHUN 2019
29-11-2019
Panitia Natal GKPI Rawamangun Tahun 2019
KERANGKA ACUAN PERAYAAN NATAL GKPI RAWAMANGUN TAHUN 2019
24-11-2019
Pdt. Irvan Hutasoit