JEMAAT KHUSUS RAWAMANGUN

Media Informasi dan Komunikasi Anggota Jemaat

Selamat Datang di Media Informasi dan Komunikasi GKPI Rawamangun. Berselancar di media ini, sila pilih pilihan pada menu di bawah

Klik menu dibawah untuk melihat rencana kegiatan Perayaan Natal GKPI Jemaat Khusus Rawamangun 2019


PERSIAPKANLAH JALAN UNTUK TUHAN: Spiritualitas Kerasulan yang Menjadikan Semua Orang Sederajat dan Setara

Penjelasan Minggu Advent 1 Tahun 2019

Pdt. Irvan Hutasoit, S.Si (Teol.)


PENDAHULUAN

Advent 1 yang dilaksanakan pada ibadah Minggu 1 Desember 2019 menggunakan tema dalam Almanak GKPI sebagai sub-tema. Bacaan yang menjadi dasar dalam ibadah Adven 1 diambil dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Untuk nas Epistel merujuk pada Wahyu 19:11-16 dan nas khotbah dari Yesaya 40:1-8. Berikut ini penjelasan tentang nas tersebut.

EPISTEL:Wahyu 19:11-16

Wahyu adalah salah satu kitab yang sulit untuk dipahami sebab di dalamnya banyak simbol yang ditafsirkan secara berbeda-beda. Pada masa gereja mula-mula, kitab Wahyu adalah tanda simbolik terhadap akhir zaman. Sehingga setiap simbol dan bilangan yang terdapat dalam kitab itu ditafsirkan atau yang lebih parah lagi, dipakai sebagai alat untuk "meramal" datangnya hari kiamat. Sehingga tidak jarang spiritualitas banyak orang lebih terarah pada akhir zaman ketimbang perjuangan hidup sekarang bila sudah membaca kitab Wahyu ini.

Selain tafsir akhir zaman terhadap simbol dan tanda dalam kitab Wahyu, ternyata ada tafsir lain yang mungkin saja jauh lebih baik dipakai terutama dalam perjuangan hidup sekarang ini. Tafsir tersebut berangkat dari konteks sosial dan politik yang berkembang pada abad pertama sesudah masehi. Kejayaan Romawi menaklukkan Yunani berimplikasi pada konsolidasi luar biasa kekaisaran di Roma untuk menguatkan otoritas mereka di daratan Eropa. Sehingga semua komunitas sosial dipaksakan tunduk pada otoritas Kaisar di Roma. Bahkan, respon banyak orang saat itu justru menempatkan kaisar seolah dewa yang memiliki kekuasaan tidak terbatas. Hal itu dikuatkan melalui ritus setiap tahun yang telah ditetapkan. Rakyat wajib membakar kemenyan sebagai penyembahan kepada kaisar dalam kuil. Tentulah ritus ini ditolak oleh komunitas gereja mula-mula saat itu.

Penolakan itulah yang menjadi dasar kuat bagi kaisar untuk mengeluarkan kebijakan publik bahwa setiap orang Kristen dipastikan akan mengalami penganiayaan dan penyiksaan dari pemegang otoritas di kota Roma. Yohanes anak Zebedeus juga tidak luput dari penyiksaan otoritas Romawi sehingga dia dibuang ke Pulau Patmos, sebuah pulau kecil di Laut Aegea, Yunani. Saat dibuang dan dipenjarakan disana, Yohanes menerima wahyu yang kemudian dikenal sebagai kitab Wahyu.

Dari pendekatan sejarah tersebut, maka memahami kitab Wahyu tidak selalu berdimensi akhir zaman. Pemahamannya juga bisa dipakai sebagai daya dorong spiritualitas kekinian, terutama bagi gereja. Gereja diajak agar memiliki daya tahan dalam mewujudkan kesaksian di dunia sekarang ini. Pandangan itulah yang perlu dipakai untuk memaknai pesan dalam bacaan minggu Adven 1.

Bacaan ini seolah menjelaskan apa kelak yang terjadi pada akhir zaman. Disana disebutkan bahwa ada pemilik otoritas yang berkuasa atas segala sesuatu. Dibalik pernyataan dalam teks ini maka dapat dipahami juga bahwa segala otoritas yang ada di dunia, terutama Romawi berada di bawah otoritas yang dalam bacaan ini namaNya disebut dengan "Firman Allah" (ayat 13). Tetapi bila konteks kekinian dipakai sebagai sudut pandang, maka tafsirnya tidak melulu terarah pada situasi yang akan terjadi pada akhir zaman. Bisa saja teks ini dipahami sebagai kekuatan spiritualitas orang percaya untuk menjalani kehidupan kesaksian pada zaman sekarang. Seluruh kesaksian orang percaya diarahkan sebagai tanda sikap tunduknya pada pemilik otoritas kehidupan, yaitu Allah.

KHOTBAH:Yesaya 40:1-8

Bacaan dari kitab Yesaya ini dikategorikan sebagai deutro-yesaya, atau terjemahan bebasnya Yesaya kedua. Deutro-Yesaya terdiri dari pasal 40-55. Disebut sebagai Yesaya kedua sebab di bagian ini, Yesaya menubuatkan pembebasan Israel dari pembuangan Babel. Sehingga tema besar dalam Yesaya kedua ialah bahwa Tuhan itu Tuhan yang menguasai sejarah, dan bahwa Ia merencanakan untuk mengutus umat-Nya ke segala bangsa yang akan diberkati melalui Israel.

Kalau kita memakai makna dalam Yesaya kedua ini sebagai landasan memahami kesaksian di dunia, maka maknanya selaras dengan entitas atau jati diri gereja itu sendiri, yaitu dipanggil keluar. Sehingga, spiritualitas kerasulan adalah daya pendorong kesaksian gereja di dunia ini. Dan bila dikaitkan dengan bacaan pada Adven 1 yaitu pasal 40:1-8, maka spiritualitas kesaksian terletak pada ayat 1-2, "Hiburkanlah, hiburkanlah umatKu, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya". Poin pentingya terletak pada frasa perhambaan sudah berakhir.

Dalam teori politik, perhambaan atau lazim juga dikenal dengan perbudakan adalah ancaman serius bagi kemanusiaan. Itulah sebabnya sehingga poin penting dalam Deklarasi Umum Hak Azasi Manusia (DUHAM) PBB mengatakan bahwa manusia diciptakan sederajat. Karena manusia diciptakan sederajat, maka sistem perbudakan dan penjajahan harus ditolak di muka bumi ini. Tentulah, semangat kesederajatan dan kesetaraan itulah yang mau ditekankan oleh bacaan minggu Advent 1. Artinya, spiritualitas kerasulan gereja ialah menjadikan manusia sederajat dan setara.

KETERKAITAN ANTAR TEKS

Pengakuan pada otoritas Allah bukanlah sesuatu yang hampa. Pengakuan itu harus diwujudkan dalam ruang dan waktu kehidupan kita. Tawaran spiritualitas kerasulan yang ditawarkan dalam bacaan Yesaya 40:1-8 adalah salah satu bentuk bagi kita mewujudkan hidup yang berada di bawah otoritas Allah.

Kalau pengakuan pada otoritas Allah diwujudkan melalui praktek hidup yang menempatkan semua orang sederajat dan setara, maka itu juga berimplikasi pada pola relasi sosial kita. Dengan cara seperti itulah, maka kita tidak pernah lagi menempatkan diri sebagia pribadi yang berada di atas orang lain, yaitu orang yang seolah memiliki otoritas untuk menentukan hidup orang lain. Pada minggu Advent 1 ini kita diingatkan oleh bacaan dalam dua teks tersebut bahwa tidak ada otoritas bagi kita untuk menguasai orang lain. Otoritas yang diberikan Allah bagi kita adalah menjadi sahabat bagi semua orang, yang menempatkan semua orang sederajat dan setara. Bukan sebaliknya, menjadi penugasa bagi orang lain.

TATA IBADAH

Berikut ini kami melampirkan tata ibadah yang akan dipakai dalam minggu Advent 1 di GKPI Jemaat Khusus Rawamangun, tanggal 1 Desember 2019. Klik link yang kami lampirkan di bawah ini:

Tata Ibadah Minggu Advent 1 [1 Desember 2019]