JEMAAT KHUSUS RAWAMANGUN

Media Informasi dan Komunikasi Anggota Jemaat

Selamat Datang di Media Informasi dan Komunikasi GKPI Rawamangun. Berselancar di media ini, sila pilih pilihan pada menu di bawah

Klik menu dibawah untuk melihat rencana kegiatan Perayaan Natal GKPI Jemaat Khusus Rawamangun 2019


KEDATANGAN YESUS: Mewujudkan Spiritualitas Perdamaian

Penjelasan Minggu Advent 3 Tahun 2019

Pdt. Irvan Hutasoit, S.Si (Teol.)


PENDAHULUAN

Pada Minggu Advent 3, kita akan masuk dalam perenungan yang paling sentral dan paling sering dijadikan sebagai pokok ketika berbicara tentang keselamatan. Cara berpikir kita selama ini bahwa keselamatan terjadi ketika dunia ini berakhir. Berakhirnya dunia sering diartikan sebagai hari kiamat. Disana akan terjadi kengerian: dunia akan mengalami kehancuran, air laut akan menenggelamkan daratan. Itulah sebabnya ketika berbicara tentang hari kiamat, hampir semua orang merasa seram dengan itu. Atau tidak jarang, muncul pergolakan kebatinan yang menakutkan bagi seseorang bila kata kiamat dipakai dalam narasi-narasi ibadah.

Lantas, apakah kehancuran dunia yang menjadi pokok perenungan dalam Minggu Advent 3 ini? Maka itu, kita perlu mengkaji secara kritis apa yang dijadikan sebagai tema minggu dalam Almanak GKPI. Disana dicantumkan bahwa tema Minggu Advent 3 adalah Kedatangan Yesus dan Kesudahan Dunia. Yang perlu dipahamai secara kritis adalah frasa kesudahan dunia. Apakah maksudnya kehancuran dunia? atau kebinasaan dunia? Kalau itu yang dimaksudkan, apakah Allah membohongi janjiNya kepada Nuh setelah air bah surut? [baca: Kejadian 9:1-17]. Karena itu, selain mengkaji perenungan pada minggu Advent 3, saya juga berkepentingan untuk meluruskan pemahaman kita tentang hari Tuhan, atau juga sering kita sebutkan dengan akhir zaman.

EPISTEL: Yoel 2:30-32

Kitab Yoel adalah salah satu di antara 12 kitab nabi-nabi kecil dalam Perjanjian Lama. Yoel dikenal sebagai nabi kultis karena locus atau tempat nubuatannya adalah Bait Allah. Dengan begitu dapat dipastikan bahwa nubuatannya ditujukan kepada orang-orang Yehuda. Perhatian utama nabi Yoel dalam nubuatannya adalah kedatangan hari Tuhan.

Salah satu poin hari Tuhan dalam nubuatan Yoel adalah hal keselamatan yang dijelaskan dalam nas Epistel ini. Disana dikatakan bahwa Allah akan mengadakan mujizat-mujizat di langit dan di bumi [ayat 30], Matahari akan berubah menjadi gelap gulita [ayat 31], dan barangsiapa yang menyeru kepada nama Tuhan akan diselamatkan [ayat 32]. Lantas, apakah situasi yang seperti ini kemudian kita kenal sebagai hari kiamat?

Selama ini metode tafsir yang kita pakai untuk memahami teks Alkitab sering dipengaruhi oleh dikotomi ala gnostik. Bagi gnostik, apa yang ada di dunia ini sangatlah buruk dan najis. Karena keburukan dan kenajisannya, maka dunia ini kelak akan dimusnahkan. Nah, cara tafsir demikian mempengaruhi kita memandang teks Alkitab terutama bila pokok yang dibicarakan adalah keselamatan. Dunia ini akan dimusnahkan, tetapi yang yang percaya akan diselamatkan.

Saya kira cara tafsir harus sedikit diperbaiki. Keselamatan itu bukanlah penghancuran dunia sekarang sebab dunia ini sesungguhnya kudus. Dikatakan kudus, karena Allah sendiri yang menjadikannya. Bagaimanapula kita berani menuduh ciptaan Allah itu najis? Sebab itulah, cara kita memandang nubuat Yoel janganlah dipengaruhi oleh pola pikir dikotomis seperti sudah dijelaskan di atas. Saya usul agar pola pikir perikoresis [Allah yang menghadirkan diri dalam segala hal], imanen [Allah yang nyata dalam kehidupan dunia], dan transenden [otoritas Allah yang melampaui segala otoritas dunia], itulah yang membentuk pola pikir kita memahami nubuatan Yoel ini.

Sebagaimana nubuatan Yoel, misalnya pada ayat 31 dikatakan bahwa Matahari akan berubah menjadi gelap gulita. Keadaan itu adalah awal dari keadaan sesudahnya, yaitu kedatangan hari TUHAN. Artinya, ada sesuatu fakta yang berada diluar kendali oleh apa/siapapun, yang mengawali datangnya hari TUHAN. Tetapi fakta yang berada di luar kendali itu bukanlah sesuatu yang menghancurkan atau merusak. Itu hanyalah sebagai penanda terhadap otoritas Allah. Bahwa pada hari TUHAN, yang menguasai dunia ini bukan lagi otoritas segala ciptaan, melainkan otoritas Sang Pencipta itu sendiri. Tetapi sekali lagi, itu bukan dalam konteks penghancuran.

KHOTBAH: Matius 24:3-8

Uraian kitab injil Matius yang menjadi bahan khotbah dalam Minggu Advent 3 adalah pengajaran-pengajaran terakhir Yesus kepada murid-muridNya sebelum Dia ditangkap di Getsemani. Selain pengajaran terakhir Yesus, firman ini juga bertujuan untuk menyiapkan murid-murid mewujudkan kesaksian kelak setelah Yesus naik ke surga. Pokok pengajaranNya berpusat pada kemesiasan Yesus di tengah fakta yang akan terjadi, yaitu gemuruh permusuhan dan peperangan yang mengisi relasi atau hubungan antar umat manusia. Misalnya pada ayat 7 dikatakan, "Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan ..." Untuk itulah, Yesus mengingatkan murid-muridNya agar waspada menanggapi hal itu.

Tetapi yang menariknya ialah perkataan Yesus pada ayat 8, "Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru" Permusuhan dan pertikaian antar manusia atau bangsa adalah preambule terhadap New Age, atau zaman baru. kata permulaan berasal dari bahasa Yunani arche, dimana kata itu juga dipakai dalam injil Yohanes dalam frasa en arche en ho logos [pada mulanya adalah Firman]. Maksud kata arche tidak hanya permulaan atau yang awal. Kata itu juga berarti prinsip utama. Kalau kata itu dipakai memaknai perkataan Yesus pada ayat 8 bahwa permusuhan atau pertikaian itu adalah fakta atau sesuatu yang pasti ada dalam kesaksian murid-murid itu kelak. Tetapi, apakah permusuhan atau pertikaian itu sesuatu fakta yang menghancurkan kehidupan?

Memang dalam nas khotbah ini muncul kata penderitaan seolah-olah itu merujuk pada kehancuran atau kebinasaan. Tetapi bila kata penderitaan dimaknai sesuai dengan bahasa aslinya, yang diterjemahkan dari kata odin, maka maknanya tidak melulu kehancuran. Kata odin dipakai untuk menggambarkan pengalaman seorang perempuan. Dia merasakan kesakitan saat melahirkan. Tetapi rasa sakit itu bermuara pada kehidupan, yaitu lahirnya seorang anak. Dengan demikian, penderitaan yang dimaksud disini bukanlah sesuatu yang menggiring kehidupan pada kehancuran; tetapi sesuatu yang harus dilalui untuk menjadikan hidup jauh lebih hidup. Atau, penderitaan itu adalah peziarahan rohani orang percaya untuk mewujudkan pembaharuan kehidupan di dunia ini

KETERKAITAN ANTAR TEKS

Penjelasan dua teks bacaan dalam Advent 3 sudah diuraiakan di atas. Dari kitab Yoel, kita bisa merefleksikan bahwa hari dimana keselamatan diwujudkan bukanlah akhir dari kehidupan dunia atau binasanya dunia. Tetapi disanalah akan terwujud pemerintahan dan otoritas Allah atas segala yang ada di dunia ciptaan ini. Kemudian, pada nas khotbah dari injil Matius dapat kita renungkan bahwa permusuhan dan pertikaian adalah fakta yang ada di sekitar kehidupan orang percaya. Tetapi fakta itu tidak bertujuan untuk menghancurkan kehidupan. Sebaliknya, fakta itulah yang menjadi ruang kesaksian orang percaya, atau rute peziarahan spiritualitasnya untuk mewujudkan pembaharuan kehidupan di dunia ini.

Saya ingin kaitkan ini lagi dengan Pokok-Pokok Pemahaman Iman GKPI, atau disingkat P3I GKPI. Disana disebutkan bahwa akhir zaman adalah terwujudlah kerajaan Allah secara penu, sebagai kuasa dan pemerintahan Allah yang menyelamatkan, yang tampil dalam hidup yang sarat kasih, kebenaran, keadilan, damai sejahtera, sukacita, pemulihan dan pembaruan hidup (Mzm 145:11-13; Mat 9:35; Luk 11:2-9; Luk 4:21,23; Rm 14:7; 1 Kor 4:20) [selanjutnya dapat mengunjungi laman: P3I GKPI]. Dengan demikian, saat ini kita sedang berada dalam rute peziarahan rohani, kesempatan bagi kita untuk mewujudkan pemerintahan Allah di dunia yang kadangkala sarat dengan permusuhan dan pertikaian. Pemerintahan Allah itu adalah hidup dalam perdamaian. Itulah dasarnya mengapa dalam minggu Advent 3 ini saya mengusulkan perwujudan spiritualitas perdamaian, sebagai wujud kesaksian kita dalam peziarahan rohani di dunia ini yang masih diwarnai oleh permusuhan dan pertikaian. Tuhanlah yang memberkati kita semua.

TATA IBADAH

Berikut ini kami melampirkan tata ibadah yang akan dipakai dalam minggu Advent 2 di GKPI Jemaat Khusus Rawamangun, tanggal 15 Desember 2019. Klik link yang kami lampirkan di bawah ini:

Tata Ibadah Minggu Advent 2 [15 Desember 2019]