JEMAAT KHUSUS RAWAMANGUN

Media Informasi dan Komunikasi Anggota Jemaat

Selamat Datang di Media Informasi dan Komunikasi GKPI Rawamangun. Berselancar di media ini, sila pilih pilihan pada menu di bawah

Klik menu dibawah untuk melihat rencana kegiatan Perayaan Natal GKPI Jemaat Khusus Rawamangun 2019


TERANG TUHAN TERBIT ATASMU

Penjelasan Minggu Advent 4 Tahun 2019

Pdt. Irvan Hutasoit, S.Si (Teol.)


PENDAHULUAN

Minggu Adven IV, atau minggu terakhir sebelum perayaan natal, kita akan merenungkan tema minggu yang disajikan dalam Almanak GKPI, yaitu Terang Tuhan Terbit Atasmu. Menarik bila kita merenungkan makna tema tersebut sebab bisa saja timbul pertanyaan, apakah terang itu baru terbit ketika Yesus lahir di Betlehem? Bila awal terbitnya terang yang dimaksud ketika Yesus lahir di Betlehem, berarti pada waktu-waktu sebelumnya terang itu belum ada. Betuklah demikian?

Baiklah kita juga membaca Yohanes 1:4 yang berkata, "Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia". Dia yang dimaksud disini adalah Firman yang menjadi manusia, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Yesus. Kemudian Yohanes 1:10 kembali menegaskan hakekat Firman itu sebagai terang, "Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya, tetapi dunia tidak mengenalNya" Firman itu adalah Terang yang menjadikan dunia, tetapi dunia tidak mengenalNya. Itu artinya bahwa terang itu sudah ada tetapi manusia belum mengenalNya. Karena dunia tidak mengenalNya maka Dia tidak diterima sebagai cahaya yang menerangi perjalanan hidup manusia.

Makna terang dalam hidup kita sesuai dengan tema minggu Adven IV, itulah yang mau kita renungkan dan gumuli pada minggu ini. Tema tersebut berdiri di atas dua dasar bacaan minggu, yaitu Lukas 1:26-37 dan Yesaya 60:1-7.

EPISTEL: Lukas 1:26-38

Menurut injil Lukas, bacaan minggu Adven IV adalah kisah yang mengawali kelahiran Yesus. Bila dibanding dengan tiga kitab injil lainnya, kisah awal kelahiran Yesus menurut injil Lukas hanya mirip dengan injil Matius. Dua injil lainnya, yaitu Markus dan Yohanes, tidak diawali oleh kunjungan malaikat. Misalnya, injil Markus tidak pernah mengisahkan kelahiran Yesus dan peristiwa yang mengawalinya sebab injil tertua itu langsung mendeskripsikan pelayanan Yesus. Sementara injil Yohanes lebih menekankan hakekat Yesus yang adalah Allah itu sendiri, yang menjadikan langit dan bumi, yang berinkarnasi menjadi manusia (bnd. Yohanes 1:1, 14).

Meskipun kisah yang mengawali kelahiran Yesus dalam injil Lukas mirip dengan Matius, tetapi antara keduanya ada perbedaan. Dalam injil Matius, kunjungan malaikat itu terjadi kepada Yusuf, tunangan Maria. Malaikat yang mengunjungi Yusuf [tidak disebut namanya] memberi penjelasan kepadanya bahwa bayi yang dikandung oleh Maria berasal dari Roh Kudus (Matius 1:20). Karena itu, Yusuf hendaknya tidak meninggalkan Maria.

Berbeda dengan Matius, Lukas justru mendeskripsikan bahwa yang dikunjungi oleh malaikat itu adalah Maria. Dan injil Lukas juga menyebutkan bahwa nama malaikat itu adalah Gabriel (yang tidak pernah disebut dalam injil-injil yang lain dalam Alkitab). Apa pokok pikiran penting yang disampaikan oleh injil Lukas disini?

Memahami injil Lukas ini maka kerangka berpikir kita tidak boleh lepas dari latar belakang Lukas itu sendiri. Dia adalah seorang tabib. Dengan demikian, ciri makna yang terkandung dalam injil ini adalah Yesus yang menyembuhkan. Bila itu kerangka berpikirnya, maka kedatangan Yesus kepada Maria dapat juga dipahami dari kerangka penyembuhan tadi.

Pertama, Allah memiliki banyak cara untuk menyembuhkan manusia. Makna ini dapat dilihat dari cara kelahiran Yesus. Yesus lahir ke dunia dengan cara yang tidak lazim sebab kelahiran seorang anak harus dipicu oleh pertemuan antara sperma dan sel telur (ovum). Pada kelahiran Yesus, hal tersebut tidak berlaku. Proses kelahiran Yesus pernah disindir oleh seorang penceramah bernama Habib Rizieq Shihab. Dalam ceramahnya yang sempat viral di youtube berkata, bila Yesus lahir dari seorang perempuan, darimana bidannya?. Tentulah cara berpikir seperti ini adalah kesesatan dalam beragama. Sebab setiap orang yang beragama (entah apapun agamanya) harusnya sadar bahwa Allah itu memiliki kekayaan cara menyatakan diriNya bagi manusia. Kalau kelahiran manusia melalui pertemuan sperma dan sel telur adalah cara yang lazim dikenal oleh manusia maka manusia tidak boleh memaksa Allah menggunakan cara yang sama dalam kelahiran Yesus. Dengan kata lain, manusia tidak boleh memaksa Allah menggunakan cara yang lazim dikenal oleh manusia ketika Dia menyatakan diri bagi umat manusia. Intinya, Allah memiliki kekayaan cara kehadiran untuk menyembuhkan umat manusia itu.

Kedua, partisipasi manusia ikut dalam penyataan Allah di dunia ini. Maria ternyata tidak menolak pemberitahuan malaikat kepada dirinya. Meskipun dia sempat bertanya kepada malaikat perihal kelahiran seorang anak tanpa suami, "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" (ayat 34), tetapi akhirnya Maria justru berkata, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan ..." (ayat 38). Maria tidak menolak cara yang tidak lazim itu.

Mengapa Maria tidak menolak cara yang tidak lazim itu, bahkan seolah berpasrah diri melalui perkataan bahwa dirinya adalah hamba Tuhan. Tentunya inilah buah dari iman. Menurut Ibrani 11:1 bahwa, "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" Mendengar pemberitahuan malaikat itu, Maria percaya, taat, dan yakin. Dia tidak menyibukkan diri bersoal-jawab. Sebaliknya, Maria justru melibatkan diri dalam penyataan Allah yang diluar kelaziman itu. Dorongan hati Maria ikut dalam penyataan Allah tersebut tergambar dari pernyataannya pada ayat 38, "... Sesungguhnya, aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu"

Melihat perjalanan hidup Mari sesudahnya, maka dapat dipastikan kekuatan bagi Maria saat mengandung bayi Yesus, terutama dalam perjalanan dari Galilea menuju Betlehem, terletak pada ayat 38 tersebut. Kehambaan Maria di hadapan Allah justru menjadi spiritualitas baru bagi Maria. Akibatnya, Maria dapat mengalami kehadiran Allah yang transenden itu melalui bayi Yesus yang ada dalam kandungannya. Tidak hanya itu saja. Iman pada Maria mendorongnya agar ikut serta berpartisipasi dalam karya penyembuhan Allah bagi dunia ini.

KHOTBAH: Yesaya 60:1-7

Ada tiga pembagian kitab Yesaya dalam Alkitab. Nas khotbah ini adalah bagian ketiga atau biasa disebut dengan Titro-Yesaya, atau Yesaya bagian ketiga. Konon, Yesaya bagian ketiga ini ditujukan kepada bangsa Israel yang ada di Yerusalem setelah keluar dari pembuangan Babel. Bagi mereka, Allah telah memenuhi janjiNya, membawa bangsa itu kembali ke Yerusalem. Ternyata, kembalinya bangsa Israel dari pembuangan Babel bukanlah cek kosong. Maksudnya, bangsa Israel harus melakukan suatu tindakan besar sebagai tanggapan bahwa Allah telah memenuhi janjiNya. Tindakan itu menjadi terang.

Penulis kitab Yesaya menegaskan bahwa sesungguhnya kegelapan menutupi bumi. Meskipun penulis kitab Yesaya berkata demikian seperti dicatatkan pada ayat 2, bukan berarti bahwa bumi ini adalah kegelapan itu sendiri. Pernyataan pada ayat 2 itu sesuai dengan apa yang dikatakan pada injil Yohanes bahwa dunia tidak mengenal terang itu (Yoh. 1:10). Dunia tidak mengenal terang karena kegelapan itu sendiri masih menutupi mata setiap orang untuk melihat terang itu. Maka itu, bangsa Israel haruslah menjadi terang agar bangsa lain berduyun-duyun mendatanginya (ayat 3).

Pesan penting bacaan khotbah minggu Adven IV adalah panggilan menjadi terang. Menjadi terang berarti melampaui kegelapan. Menjadi terang juga mengalahkan kegelapan. Bila demikian, maka bacaan ini dapat dikategorikan sebagai terang yang tidak boleh takluk pada kegelapan melainkan kegelapan harus dilampaui. Ajakan atau panggilan menjadi terang itu sangatlah tegas dikatakan pada ayat 1 melalui kata bangkitlah. Makna pada kata itu ialah panggilan untuk didirikan menjadi terang; panggilan peneguhan menjadi terang. Bangsa Israel hendak didirikan dan diteguhkan menjadi terang Allah di bumi ini.

Maka bila kita refleksikan pesan nas ini bagi kehidupan spiritualitas masa kini, maka pada minggu Adven IV kita hendak diteguhkan dan didirikan menjadi terang Allah. Mewujudkan hal tersebut, tentu kita tidak mau ada satu halangan apapun yang membuat terang tersebut redup; yang membuat terang itu mati. Sebaliknya, harus ada usaha terus-menerus agar terang itu tetap terang. Terang itu tetap menyala. Terang itu tetap bersinar. Itulah panggilan spiritualitas dalam bacaan ini.

KETERKAITAN ANTAR TEKS

Seperti dijelaskan pada bagian pendahuluan bahwa tema minggu Adven IV adalah Terang Tuhan Terbit Atasmu. Tema ini mengajak kita agar terang tersebut tidak hanya menyinari kehidupan kita. Tetapi seperti Maria yang terlibat dan berpartisipasi dalam karya keselamatan dan penyembuhan Allah, maka konsekuensi tema minggu Adven IV adalah melakukan hal yang sama seperti Maria. Sudah sepatutnya kita berkata bahwa kita ini adalah hamba Allah. Bila kita hamba Allah, maka kita perlu melibatkan diri dan berpartisipasi dalam karya penyembuhan Allah atas dunia ini.

Melihat realita di sekitar maka tidaklah salah bila dikatakan bahwa dunia ini sedang sakit. Dunia sakit akibat permusuhan yang dilatari oleh kebencian akibat perbedaan. Tidak jarang kita melihat bahwa manusia itu sangat mudah melakukan kekerasan, baik fisik maupun psikis. Hanya karena berbeda, manusia saling menyakiti. Itulah dunia tempat kita hadir saat ini. Sebab itu, tema minggu ini menjadi ajakan bagi kita agar mau berpartisipasi dalam misi Allah, menyembuhkan dunia dari penyakit-penyakit demikian.

Partisipasi kita terwujud seperti pernyataan Yesus dalam Yohanes 15:14. Yesus menyapa manusia dengan sahabat. Maka partispasi kita dalam misi Allah ialah menjadikan sesama menjadi sahabat. Sekiranya ada perbedaan, maka sebagai sahabat perbedaan itu harus dihargai. Martabat kemanusiaan harus dijaga. Orang lain harus dihormati. Itulah misi Allah yang menyembuhkan dunia. Dan kitapun dipanggil ikut serta dalam misi itu, menjadi sahabat bagi semua orang.

TATA IBADAH

Berikut ini kami melampirkan tata ibadah yang akan dipakai dalam minggu Advent 2 di GKPI Jemaat Khusus Rawamangun, tanggal 15 Desember 2019. Klik link yang kami lampirkan di bawah ini:

Tata Ibadah Minggu Advent 4 [22 Desember 2019]