JEMAAT KHUSUS RAWAMANGUN

Media Informasi dan Komunikasi Anggota Jemaat

Selamat Datang di Media Informasi dan Komunikasi GKPI Rawamangun. Berselancar di media ini, sila pilih pilihan pada menu di bawah

Klik menu dibawah untuk melihat rencana kegiatan Perayaan Natal GKPI Jemaat Khusus Rawamangun 2019


ALLAH ADALAH DASAR DARI SEGALA KEBERADAAN

Roma 8:31

Renungan Ibadah Akhir Tahun 2019 di GKPI Rawamangun

Pdt. Irvan Hutasoit, S.Si (Teol.)


Ludwih Feurbach, seorang filsuf kebangsaan Perancis pernah berpendapat bahwa gerakan animisme tidak hanya monopoli dunia kuno. Pada zaman sekarang, di abad modern dan era sesudahnya seperti zaman sekarang ini, perilaku animisme itu masih marak terjadi. Hal itu ditandai oleh sikap orang beragama yang menjadikan Allah hanya proyeksi keinginan manusia. Sehingga, ilah-ilah di zaman sekarang bukanlah subjek lain di luar manusia, tetapi sesuatu yang melekat pada manusia itu sendiri, yaitu keinginannya. Feurbach lebih lanjut berkata, seandainya manusia tidak mempunyai keinginan, maka dia tidak memerlukan ilah-ilah.

Pendapat Feurbach itu adalah kritik bagi orang beragama. Tidak terkecuali, kritik tersebut juga menyasar kita orang Kristen. Sebagaimana dikatakan oleh Feurbach di atas bahwa karakter beragama orang pada zaman sekarang telah menjadikan Allah sebagai proyeksi keinginan semata. Hal itu terwujud dalam pola beragama seseorang yang menjadikan Allah sebagai instrumen untuk mewujudkan keinginan-keinginannya. Dengan kata lain, orang beragama (baca: ber-Tuhan) untuk mewujudkan keinginan semata.

Kelemahan pola beragama seperti ini adalah pengabaian pada proses ketika mewujudkan keinginan. Padahal, satu yang tidak bisa kita abaikan dari hidup ini ialah proses, bukan semata-mata tujuan. Kalau orientasi kita pada tujuan, maka segala hal bisa saja dibenarkan. Tetapi bila proses mendapat perhatian penting, maka disanalah nilai-nilai moral dan kebaikan bisa diwujudnyatakan. Jadi, pendapat Feurbach itu adalah kritik membangun dalam kehidupan beragama kita. Bila kita memandang Allah sebagai proyeksi keinginan, maka kita telah mendegradasi kewibawaanNya. Lantas, apa yang dapat kita lakukan?

Pada malam akhir tahun 2019 ini, kita disapa Allah melalui firmanNya, yaitu surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma. Ketika Paulus menuliskan surat ini, jemaat di Roma mengalami persekusi dari penguasa Romawi. Karena itu, Paulus perlu menguatkan jemaat itu agar mereka tetap bertahan. Itulah dasarnya mengapa Paulus berkata pada ayat 31 itu, "Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Paulus tidak bermaksud agar jemaat Roma menaklukkan penguasa Romawi meskipun dia menggunakan frasa, “siapakah yang akan melawan kita" Tujuan Paulus supaya jemaat di Roma tetap bertahan dalam iman mereka pada Yesus, tidak goyah meskipun ancaman persekusi sedang marak-maraknya pada zaman itu. Mereka harus kuat dan teguh dalam iman yang benar kepada Yesus Kristus sebab itulah proses yang harus dilalui sebagai orang yang beriman.

Disinilah letak hubungan antara bacaan kita malam ini dengan kritik Feurbach di atas. Membangun hubungan dengan Allah tidak didasarkan pada perwujudan keinginan semata. Tetapi kita harus mundur dari orientasi pada tujuan menjadi pemusatan pada proses. Itulah yang ditekankan oleh Paulus kepada jemaat di kota Roma. Persekusi dan penganiayaan yang dialami itu adalah proses iman. Dalam proses itulah ditunjukkan komitmen beriman, yaitu setia dan teguh pada Tuhan.

Saat ini, kita sudah berada di penghujung tahun 2019. Tidak berapa lama lagi, tinggal hitungan jam; kita akan memasuki tahun 2020. Tentu kita memiliki banyak keinginan di tahun akan datang. Banyak target hidup yang sudah kita rencanakan. Kini, apakah kita terjebak dengan kritik Feurbach di atas? Bila kita memproyeksikan Tuhan sekedar memenuhi keinginan, maka kita sudah terjebak dengan kritik tersebut. Namun, bila kita mau dipengaruhi oleh motif penulisan surat Paulus kepada jemaat Roma, yaitu keteguhan iman pada Allah dalam proses menggumuli dan mewujudkan keinginan, maka kita telah menempatkan bahwa Dia adalah Sang Absolut dalam kehidupan.

Maka pesan dalam surat Roma malam ini mengajak kita agar tetap setia berproses menggumuli segala keinginan yang telah ditetapkan pada tahun akan datang. Menjadikan Allah sebagai dasar dari segala keberadaan sebagaimana dikatakan oleh seorang teolog bernama Paul Tillich adalah langkah bijak dalam beragama. Langkah itulah yang harus kita pertahankan dan laksanakan melalui perjalanan hidup pada tahun 2020 akan datang. Tuhan Memberkati.

TATA IBADAH

Berikut ini kami melampirkan tata ibadah yang akan dipakai dalam Ibadah Akhir Tahun 2019 di GKPI Jemaat Khusus Rawamangun, tanggal 31 Desember 2019. Klik link yang kami lampirkan di bawah ini:

Tata Ibadah Akhir Tahun 2019 [31 Desember 2019]

Tata Ibadah Tahun Baru Keluarga 2020 [Pukul 00.00 WIB, 01 Januari 2020]