JEMAAT KHUSUS RAWAMANGUN

Media Informasi dan Komunikasi Anggota Jemaat

Selamat Datang di Media Informasi dan Komunikasi GKPI Rawamangun. Berselancar di media ini, sila pilih pilihan pada menu di bawah

Klik menu dibawah untuk melihat rencana kegiatan Perayaan Natal GKPI Jemaat Khusus Rawamangun 2019


TELAH LAHIR JURU SELAMAT

Penjelasan Minggu Natal, 25 Desember 2019

Pdt. Irvan Hutasoit, S.Si (Teol.)


PENDAHULUAN

Kini kita telah memasuki perayaan Natal. Di GKPI Rawamangun, selain Malam Natal, Ibadah Natal akan dilaksanakan dua kali, yaitu tanggal 25 Desember 2019 dan 26 Desember 2019. Ada yang unik dalam perayaan natal tahun 2019 ini dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun sebelumnya ibadah Natal hanya dilaksanakan satu kali, yaitu tanggal 25 Desember. Tahun ini, ibadah natal juga dilaksanakan tanggal 26 Desember 2019 dengan cara yang unik, yaitu menggunakan bahasa Batak.

Ibadah natal tanggal 25 Desember 2019 menggunakan tema Telah Lahir Bagimu Juru Selamat. Narasi pada tema ini menegaskan entitas Allah, yaitu Sang Absolut yang hadir ke dunia. Tentu, kehadiran Allah di dunia ini berbeda dengan faham ketuhanan dalam agama-agama animisme. Perbedaannya terletak pada sifat kehadiranNya. Meskipun Dia hadir ke dunia ini, namun tidak ada satupun di dunia ini yang bisa mewakili kehadiranNya. Dia hadir ke dunia tetapi otoritasNya berada di atas segala otoritas yang ada di dunia ini.

EPISTEL: Mika 7:18-20

Kitab yang menjadi bacaan Epistel ini ditulis oleh seorang nabi bernama Mika, berasal dari Moresyet, sebuah desa kecil di Yehuda. Nabi Mika hidup sezaman dengan Yesaya, yaitu pada masa pemerintahan raja Yotam, Ahas dan Hizkia berkuasa di Yehuda. Poin penting yang dinarasikan oleh Mika dalam kitabnya itu adalah dosa besar bangsa Yehuda. Dosa itu telah membuat mereka cacat di hadapan Allah. Dengan usaha sendiri, bangsa Yehuda tidak mungkin bisa menghapuskan dosa mereka di hadapan Allah.

Disinilah terlihat konsep yang diajarkan oleh Mika dalam bacaan ini. Allah yang diimani oleh Mika adalah Allah yang berotoritas. Dia adalah Sang Absolut. Otoritas Allah tidak hanya menentukan hidup manusia di dunia. Dia punya otoritas, yaitu menghapus dosa-dosa manusia. Disinilah kita membaca pesan kitab Mika ini. Allah adalah Sang Absolut, terutama otoritasnya untuk meniadakan dosa manusia dihadapanNya.

Otoritas dan keabsolutan Allah meniadakan ganjalan dosa antara diriNya dengan manusia digerakkan oleh keluhuran nilai yang ada pada Allah, yaitu kasih. Kasih itu berdampak besar. Seperti dikatakan dalam 1Korintus 13:4-8a bahwa salah satu defenisi kasih Allah adalah menutupi segala sesuatu. Pengampunan dosa dalam teks Epistel hari ini adalah tindakan Allah yang menutupi dosa manusia di hadapanNya. Artinya, Mika menegaskan bahwa kasih Allah itu adalah tindakanNya yang menutupi dosa manusia. Itulah karya Allah yang mengampuni dosa manusia.

Inilah yang diserukan oleh Mika, kiranya Allah tidak henti-hentinya menunjukkan kasih setiaNya. Sepertinya ada keyakinan Mika bahwa kasih Allah itu tidak berkesudahan. Hal itu juga yang diratapi oleh Yeremia dalam kita Ratapan 3:22-23. Disana Yeremia berkata bahwa kasih Allah tidak berkesudahan. Kasih setiaNya tidak habis-habisnya. Rahmat-Nya selalu baru tiap pagi dan kesetiaanNya besar.

KHOTBAH: Lukas 2:8-14

Teks yang menjadi materi khotbah ini mengisahkan malam kelahiran Yesus di Betlehem. Seperti yang sering diperdengarkan kepada kita bahwa berita kelahiran Yesus pertama sekali dikabarkan kepada gembala di padang. Malam itu, mereka sedang menjaga domba-domba peliharaan mereka. Sebagaimana lazimnya tugas para gembala di zaman itu, mereka bertugas untuk menjaga domba yang digembalakan terutama dari ancaman binatang buas dan orang jahat.

Di malam yang gelap gulita itu, tiba-tiba malaikat berdiri di depan mereka (ayat 9). Tentu mereka sangat ketakutan dan syok. Mungkin sekali mereka beranggapan bahwa malaikat itu akan mendatangkan bahaya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Malaikat menyapa mereka, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa” (ayat 10). Kemudian, malaikat menyampaikan kabar kelahiran Yesus pada ayat 11, "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud".

Ada dua hal yang perlu kita renungkan dari kabar kelahiran Yesus itu, yaitu hari ini dan di kota. Dua hal tersebut merujuk pada ruang dan waktu. Kata kota merujuk pada ruang dan kata hari merujuk pada waktu. Artinya, Yesus yang menghadirkan diri itu tidak terjadi di ruang hampa, tetapi terjadi dalam ruang dan waktu; dimana ruang dan waktu adalah dua dimensi kehidupan manusia. Maka itu, kelahiran Yesus bukan penyataan Allah yang statis, melainkan dinamis. Kalau manusia menjalani hidupnya dalam pertukaran ruang dan waktu, maka disana juga Allah berkenan menghadirkan diriNya. Maksudnya, Allah mengiringi perjalanan hidup manusia yang dinamis itu. Untuk apa?

Maka kini kita masuk dalam penjelasan ayat 10 itu. Tentu kita sering dibayangi oleh kecemasan dan ketakutan seperti lazimnya pengalaman gembala ketika menjaga domba-domba di padang. Tidak jarang pikiran dan perasaan para gembala dihinggapi oleh rasa cemas dan takut, jangan-jangan binatang buas atau orang jahat akan membawa malapetaka kepada mereka dan domba yang sedangan dijaganya. Tetapi saat kelahiran Yesus itu, justru kabar kelahiran Sang Juru Selamat mengobati rasa takut dan cemas tersebut. Kepada mereka disampaikan agar jangan takut.

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, kelahiran Yesus adalah penanda bagi kita. Dia mengiringi sekaligus menghadirkan diri dalam perjalanan hidup manusia yang dinamis. Oleh sebab itu, rasa takut dan cemas tidak boleh lagi membayangi setiap perjalanan hidup kita. Mengapa? Karena Allah hadir dalam pengalaman hidup yang dinamis ini

KETERKAITAN ANTAR TEKS

Pada kitab Mika dijelaskan tentang kasih Allah yang mengampuni. Kita tentunya sudah paham bahwa dosa itulah yang memisahkan Allah dengan kita. Berdasarkan keyakinan iman yang muncul dalam kitab Mika, maka dapat kita yakini bahwa dibalik pengampunan Allah terhadap dosa manusia terdapat makna yang sangat dalam. Makna itu ialah, Allah tidak mau bila ada yang menghalangi atau membatasi relasi dan hubungan antara diriNya dengan manusia. Dia mau menyatu dengan kehidupan manusia. Penyatuan itu tergambar dari kelahiranNya.

Kelahiran Yesus di Betlehem sebagai penyatuan Allah dengan manusia menjadi penegasan bagi kita. Yang perlu ditegaskan adalah, Dia hadir dalam dimensi hidup manusia. Dia mengiringi perjalanan manusia yang dinamis. Maka kitapun diarahkan agar mentransformasi diri. Bukan kecemasan atau ketakutan lagi yang membayangi hidup kita sebab sudah ada Allah yang mengiringi perjalanan hidup ini. Agar kecemasan dan ketakutan itu bisa diatasi maka kita perlu membina hubungan yang guyub dengan Allah. Selamat Natal dan Tuhan Memberkati.

TATA IBADAH

Berikut ini kami melampirkan tata ibadah yang akan dipakai dalam Ibadah Natal Umum GKPI Jemaat Khusus Rawamangun, tanggal 25 Desember 2019 dan tanggal 26 Desember 2019. Klik link yang kami lampirkan di bawah ini:

Tata Ibadah Natal Umum [25 Desember 2019]

Tata Ibadah Natal Umum [26 Desember 2019]