GKPI JEMAAT KHUSUS RAWAMANGUN

Bahan PA GKPI Rawamangun Basis Online



Koleksi Bahan PA: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

Bahan PA |Seksi Perempuan|
Ditulis | Pdt. Irvan Hutasoit|
Waktu | 21-11-2019 |

MEMBANGUN HUBUNGAN YANG BENAR DENGAN SESAMA

[Efesus 6:1-9]

PENDAHULUAN

Kitab Efesus ditulis Paulus dari penjara di kota Roma sekitar tahun 57-59 M. Diperkirakan, penulisan surat ke jemaat Efesus berada satu periode dengan surat kiriman lainnya seperti: Filipi, Kolose, dan Filemon. Pada periode waktu tersebut, kekaisaran Romawi sedang berada dalam puncak kejayaan yang kekuasaannya tidak sekedar politik, tetapi juga kekuasaan agama. Penyembahan pada banyak dewa atau allah (polytheis) adalah sifat beragama yang diakui oleh negara saat itu. Monotisme Kristen tidak diakui bahkan ditolak, apalagi konsep inkarnasi Yesus yang jelas-jelas bertentangan dengan sistem keagamaan Romawi, bahwa Kaisar adalah titisan dewa. Akibatnya, banyak di antara pengikut Kristen yang mengalami persekusi kala itu.

Hal yang sama terjadi di jemaat Efesus. Mereka berada di tengah konteks masyarakat yang melakukan penyembahan pada dewa-dewi yang salah satu di antaranya dikenal dengan nama Dewi Arthemis. Saat itu, beragama tidak hanya soal kerelaan hati tetapi tidak jarang terjadi pemaksaan oleh otoritas kekaisaran Romawi. Orang yang tidak mengikuti ritus agama yang diakui oleh kekaisaran dianggap sebagai pemberontakan. Sehingga tidak mengherankan banyak di antara anggota jemaat di Efesus akhirnya terikut dengan ritus beragama yang diakui oleh kekaisaran Romawi. Untuk itulah, Paulus merasa penting menyurati jemaat Efesus meskipun saat itu dia sedang dipenjara. Tujuan surat tersebut adalah untuk menguatkan mereka dalam iman pada Yesus Kristus.

PENJELASAN TEKS

Perikop ini diberi judul Taat dan Kasih, yang didalamnya mengatur hubungan antara: anak terhadap orang tua, orang tua terhadap anak, hamba terhadap tuan, dan tuan terhadap hamba. Meskipun demikian, ada baiknya juga kita hubungkan perikop ini dengan bacaan ibadah minggu dari Amsal 19:20-29. Disana juga diatur hubungan yang lebih spesifik, yaitu antara anak dan orang tua, terutama hubungan dalam rangka didikan.

Setelah membaca teks bacaan ini, maka saya mengusulkan agar poin yang mau kita ambil adalah cara membangun relasi atau hubungan antara sesama. Meskipun saat kita membaca perikop ini ada beberapa subjek yang dimunculkan, yaitu anak, orang tua, hamba, dan tuan, tetapi baiklah itu dipahami sebagai perumpamaan. Maksudnya, model hubungan dengan sesama diumpamakan melalui hubungan antar subjek yang disebut dalam perikop ini. Apalagi ditunjang oleh tahapan Renstra GKPI 2019 yaitu Membangun Komunitas, maka semakin pentinglah bila sudut pandang yang kita pakai memaknai perikop ini bertolak dari kaca mata relasi atau hubungan.

1. Hubungan yang dilandasi oleh ketaatan

Hubungan yang pertama adalah ketaatan. Pada ayat 1 dikatakan, "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian" [bnd. Ayat 5, "Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus"] Kata taat diterjemahkan dari kata dalam bahasa Yunani, hupakouo. Kata hupakouo dipakai juga untuk menerjemahkan tindakan seseorang membuka pintu ketika ada orang yang mengetuknya. Artinya, ketaatan itu adalah sikap yang tanggap terhadap kehadiran seseorang atau dengan sukacita merespon kehadiran yang lain.

Inilah salah satu model hubungan yang perlu dikembangkan dalam komunitas. Memaksa atau berharap terhadap inisiatif seseorang untuk tanggap terhadap kehadiran kita adalah bertentangan dengan kemauan bacaan ini. Justru bacaan ini memaknai ketaatan sebagai sikap yang tanggap dan responsif terhadap kehadiran seseorang. Sikap tanggap dan responsif itu haruslah dilakukan dengan ketulusan, bukan suatu keterpaksaan ataupun juga didorong oleh motivasi-motivasi yang lain [bnd. Ayat 5]. Berarti dari setiap individu dalam komunitas dituntut sikap proaktif untuk merespon kehadiran individu yang lain. Bila seperti itu yang terjadi, maka komunitas yang dihidupi itu menjadi komunitas bersahabat.

2. Menjadikan setiap orang berharga

Hubungan yang kedua adalah hormat. Pada ayat 2 dikatakan, "Hormatilah ayahmu dan ibumu-ini adalah suatu perintah yang penting..." Kata hormatilah berasal dari kata dalam bahasa Yunani, timao. Dalam bahasa Inggris, kata itu juga dipakai dalam Matius 27:9 tetapi LAI menerjemahkannya dengan harga. Itu pertanda bahwa kata timao juga berarti berharga dan bernilai. Kalau kata itu kita pakai untuk memaknai hubungan anak dengan orang tua, maka anak diajak untuk menjadikan orang tua sebagai pribadi yang berharga dan bernilai di hadapannya.

Dalam rangka komunitas, maka perikop ini mengajak kita untuk membangun relasi bahwa setiap orang itu berharga. Kadangkala ancaman yang sering meruntuhkan bangunan komunitas adalah saat kehadiran seseorang seolah tidak dihargai. Padahal dalam penciptaan Allah tidak saja menciptakan manusia sebagai makhluk hidup. Ketika Allah menciptakanmanusia, kepadanya Allah juga memberi martabat. Kata lainnya, bersamaan dengan penciptaan manusia, Allah juga memberi martabat kepadanya. Dengan demikian, setiap orang dalam komunitas harus dihargai; diperlakukan dengan bermartabat.

3. Komunitas yang saling memerdekakan

Pada bagian ini, Paulus melawan arus di zaman itu. Kita tahu bahwa pada zaman penulisan kitab Efesus perhambaan adalah kebiasaan masyarakat. Ada tuan yang mempekerjakan hamba. Tidak jarang, tuan berlaku semena-mena pada hambanya seolah seorang hamba tidak berarti bahkan kemerdekaannya dirampas. Tetapi Paulus justru berkata, "Dan kamu tuan-tuan, .... jauhkanlah ancaman ...." [ayat 9]. Dibalik pernyataan Paulus ini ada pesan kuat bahwa tuan haruslah memerdekakan hamba. Maksudnya, seorang tuan harus menghindarkan seorang hamba dari rasa takut.

Inilah model relasi yang sangat berharga dalam suatu komunitas. Bahwa setiap orang tidak boleh merasa terintimidasi. Relasi yang terbentuk adalah semangat saling memerdekakan setiap orang, menghilangkan rasa takut [contohnya: kehadiran kita tidak menimbulkan rasa takut bagi orang lain]. Bahkan, sikap yang berusaha menghilangkan beban bagi setiap pribadi atau individu ketika berjumpa dengan yang lain.

PENUTUP

Kita telah melihat makna perikop ini dari perspektif lain, yaitu membangun komunitas. Biarlah metode seperti ini dapat dipraktekkan dalam kehidupan keseharian kita dalam komunitas atau persekutuan

LIHAT DALAM BENTUK WORD/PDF