GKPI JEMAAT KHUSUS RAWAMANGUN

Berita Pelayanan Online GKPI Rawamangun




PELAYANAN MINGGU 23 JUNI 2019
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-06-24

Dalam pelayanan Minggu 1 Set. Trinitatis, 23 Juni 2019, pelayanan firman di GKPI Jemaat Khusus Rawamangun dilakukan oleh Pdt. Dr. Asigor Sitanggang. Beliau adalah seorang staf pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, bidang Perjanjian Baru. Inilah kali ketiga Pdt. Dr. Asigor Sitanggang melayani di GKPI Jemaat Khusus Rawamangun.
Pdt. Dr. Asigor Sitanggang melayani di dua waktu pelayanan minggu GKPI Rawamangun. Pada ibadah minggu pagi, pukul 07.00 WIB bersama dengan Pnt. Freddy Siringoringo sebagai liturgis. Sementara pada ibadah minggu siang, pukul 09.30 WIB bersama Pnt. Ny. Edita Situmorang Br. Nainggolan sebagai liturgis. Kiranya pelayanan beliau menjadi bekal spritualitas anggota GKPI Jemaat Khusus Rawamangun.


MEMBACA KITAB WAHYU
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-06-24

Mengawali khotbahnya dalam Ibadah Minggu Siang di GKPI Jemaat Khusus Rawamangun, Pdt. Dr. Asigor Sitanggang melontarkan suatu pertanyaan yang menggelitik, "Siapa di antara jemaat yang sudah selesai membaca kitab Wahyu dari pasal pertama hingga akhir?". Hanya segelintir jemaat yang tunjuk tangan. Memang, jemaat terkadang ngeri membaca kitab Wahyu sebab narasi di dalamnya seolah menggiring imaginasi pembaca pada situasi menakutkan pada masa akan datang. Ketika Pdt. Dr. Asigor Sitanggang melontarkan pertanyaan itu, tidak berarti jemaat dibiarkan bingung. Dalam khotbahnya, Pdt. Dr. Asigor Sitanggang menyelipkan sedikit penjelasan tentang empat metode membaca kitab Wahyu.

  1. Metode Preteris. Metode ini dipakai untuk memahami aspek sejarah penulisan kitab Wahyu. Sejarah mencatat bahwa pada abad pertama Masehi, jemaat mula-mula mengalami penganiayaan dan persekusi dari penguasa Romawi. Kitab Wahyu ini adalah gambaran tentang situasi penganiayaan itu meskipun menggunakan simbol-simbol. Sehingga, simbol dalam kitab Wahyu adalah gambaran penganiayaan yang dialami oleh jemaat mula-mula
  2. Metode Historis. Metode ini dipakai untuk memahami setiap peristiwa pada satu periode waktu tertentu. Misalnya, ketika Perang Salib simbol naga yang keluar dari laut seperti dikisahkan oleh kitab Wahyu menjadi analogi terhadap penguasa Arab. Metode ini dipakai untuk menciptakan militansi dalam perang salibt tersebut
  3. Metode Futuris. Metode ini dipakai untuk memahami bahwa kitab Wahyu adalah sesuatu yang akan digenapi pada masa akan datang. Jadi isi kitab Wahyu bukanlah sesuatu yang sudah terjadi, melainkan akan mengalami penggenapan pada saat kedatangan Yesus kedua kali.
  4. Metode Idealis. Metode ini dipakai untuk menerapkan kitab Wahyu sebagai prinsip. Kitab Wahyu adalah hal ideal untuk memotivasi orang percaya dalam menghadapi kondisi ril yang sedang dihadapi manusia. Konsekuensi pembacaan idealis, orang percaya tidak hanya menjauhkan diri dari kejahatan. Tetapi, tugas orang percaya melibatkan diri agar kejahatan itu tidak terjadi. Sekalipun kita menderita akibat ketidakadilan, maka kitab Wahyu memberi penghiburan bahwa Yesus akan menang melawan ketidakadilan. Tidak hanya itu saja, orang percaya harus berjuang melawan ketidakadilan tersebut.

  5. Dari empat metode pembacaan Kitab Wahyu itu, Pdt. Dr. Asigor Sitanggang mengungkapkan pandangannya, bahwa dia memilih dua pendekatan, yaitu: Futuris dan Idealis. Orang percaya harus berjuang melawan ketidakadilan. Sekaligus, orang percaya masih menanti penggenapan janji Tuhan, yaitu saat kedatanganNya kali kedua ke dunia ini.


PEMBENTUKAN BKS PRIA GKPI REGIONAL 1
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-06-24

Pada hari Minggu, 23 Juni 2019, bertempat di Aula GKPI Jemaat Khusus Rawamangun, telah dilaksanakan pemilihan pengurus BKS Pria GKPI Wilayah XI, Regional 1 (Jakarta-Bogor-Tangerang-Depok-Bekasi-Cirebon). Rapat dipimpin oleh perwakilan BKS Pria Tingkat Sinode, yaitu Pnt. Horas Situmeang dan Raston Manik. Rapat dimulai pada pukul 16.00 WIB dan berakhir pada pukul 19.30 WIB.
Pengurus yang terpilih dalam rapat tersebut terdiri dari beberapa Resort/Jemaat Khusus yang ada di Regional 1. Dari GKPI Jemaat Khusus Rawamangun, pengurus BKS Pria Regional 1 yang terpilih adalah Pargaulan Marbun (Ketua Umum) dan Ronald Simorangkir (Sekretaris Umum). Dalam rapat tersebut, terbersit pemikiran dari para pria agar badan pelayanan kategorial ini tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Pelayanan kategorial ini harus juga memikirkan yang lain. Misalnya, BKS Pria Regional 1 yang sudah terbentuk perlu menggagasi suatu kegiatan, yaitu penggalangan dana untuk program beasiswa bagi anggota jemaat GKPI yang kurang mampu. Dengan demikian, BKS Pria Regional 1 menjadi berkat bagi orang lain.
Menjelang akhir rapat tersebut, BKS Pria Regional 1 juga mendapat undangan dari beberapa jemaat. Seperti dari Seksi Pria GKPI Bekasi yang akan melaksanakan Malam Pujian tanggal 13 Juli 2019 akan datang; Penggalangan Dana GKPI Pondok Timur pada tanggal 14 Juli 2019. Selain itu juga, atas usulan dari BKS Perempuan Regional 1, pada bulan Agustus 2019 akan dilaksanakan kegiatan atau program bersama, BKS Pria Regional 1 dan BKS Perempuan Regional 1, dalam rangka peringatan Ulang Tahun GKPI Ke-55. Kiranya pelayanan kategorial di GKPI Regional 1 semakin maju dan berarti dalam peningkatan pelayanan GKPI ke depan.


SENAM LANJUT USIA
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-06-25

Seksi Lanjut Usia pada hari ini, 25 Juni 2019, melaksanakan Senam Lanjut Usia. Ini adalah program rutin bulanan Seksi Lanjut Usia. GKPI Jemaat Khusus Rawamangun memunculkan program senam Lanjut Usia untuk mendukung perawatan kesehatan jemaat di atas 60 tahun. Sebab tidak bisa disangkal bahwa usia seperti itu sudah rentang dengan penyakit. Senam tersebut diikuti oleh beberapa orang, tetapi tidak mengurangi sukacita mereka. Setelah selesai senam, peserta menikmati kudapan sederhana.
Latihan Paduan Suara dilanjutkan setelah senam sehat lansia ini. Setelah menikmati kudapan sederhana, maka setiap peserta senam mengambil posisi masing-masing sebagaimana pengelompokan suara dalam Paduan Suara. Mereka mengikuti latihan dengan serius sebab nyanyian yang dilatih adalah persiapan dalam Malam Pujian HUT GKPI Rawamangun Ke-54. Latihan dipimpin oleh Pnt. (Em.) SM. Lumbantobing. Saat kabar ini disampaikan, Paduan Suara Lansia sedang melakukan latihan.


PENYATAAN DIRI ALLAH
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-06-27

Kebaktian Lingkungan X yang lazimnya dimulai pukul 19.30 WIB, kali ini mundur selama 30 menit. Keterlambatan itu diakibatkan oleh jarak tempuh ke lokasi kebaktian, di rumah Pnt. Freddy Siringoringo, Harapan Indah-Bekasi. Kebaktian yang diikuti oleh sekira 20 orang itu, dilayani oleh Pnt. Ny. Ida Hutauruk Br. Pakpahan sebagai Liturgos, dan Pdt. Irvan Hutasoit sebagai pemimpin PA. Dalam sesi diskusi, terjadi percakapan menarik yang akhirnya disepakati untuk berhenti karena waktu yang sudah semakin larut malam.

Terdapat tiga hal yang menjadi pokok diskusi malam itu. Pertama, cara Allah menyatakan diriNya. Sebagaimana lazimnya pemahaman jemaat bahwa Allah menyatakan diriNya kepada seseorang melalui hati (bnd. Amsal 4:23). Saudara Apul Silitonga yang membuat pernyataan itu lebih lanjut bertanya, apa usaha kita agar tetap sensitif menyerap penyataan Allah dalam hati kita. Pdt. Irvan Hutasoit memberi penjelasan, bahwa salah satu penyataan Allah dalam diri seseorang yaitu melalui hati. Tetapi tidak hanya melalui hati saja. Pikiran juga adalah wilayah kehadiran Allah (bnd. 2Korintus 10:5). Tidak juga hanya dalam hati dan pikiran, kepada seluruh organ tubuh kita ini Allah dapat menyatakan diriNya, sebab Dia kaya dalam segala hal, termasuk kaya dalam dalam menyatakan diri. Karena itu, cara bagi seseorang agar sensitif dengan kehadiran Allah dalam dirinya adalah komunikasi dengan Allah melalui doa dan perenungan firmanNya,

Kedua, saudara Ronald Silitonga mencoba membagi pengalamannya dalam dunia kerja. Dia berpendapat bahwa dalam dunia kerja, Allah kerap sekali menyatakan diri. Ronald Silitonga memberi contoh seperti pengalamnnya sendiri saat ada masalah yang harus diselesaikan dengan relasi kerja. Ada pikiran yang harus disampaikan. Ternyata tidak cukup hanya pikiran saja. Ada keteguhan hati untuk menyampaikannya. Tetapi tidak berhenti hanya disana. Ada kemampuan komunikasi untuk mengatakan buah pikiran itu. Itu semua menjadi wujud penyataan Allah bagi seseorang.

Ketiga, Ny. Ruth Silitonga Br. Hutauruk menyampaikan pengalamannya. Dia pernah mengalami kehadiran Allah dalam dirinya melalui orang lain. Menanggapi hal itu, Pdt. Irvan Hutasoit menguatkan, bahwa banyak cara yang dipakai Allah untuk menyatakan diriNya. Sekeliling kita, termasuk sesama adalah perantara yang Dia pakai sama seperti penyataan diri Allah kepada bangsa Israel melalui diri yang bernama Musa. Karenanya, membangun hubungan dan komunitas dengan sesama adalah wujud hubungan atau komunitas kita dengan Allah.

Setelah ibadah selesai, maka berlanjut dengan kudapan malam. Menu yang paling spesial adalah tape singkong hasil olahan bapak Pnt. Freddy Siringoringo itu, mengingatkan para peserta kebaktian dengan masa lalu, terutama di kampung halaman. Tape singkong adalah kegemaran banyak orang di kampung halaman. Akhirnya, pada pukul 23.00 WIB, anggota jemaat membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing.


ALFA DAN OMEGA
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-06-28

Kabar Pelayanan GKPI Rawamangun - Tanggal 20 Juni 2019, GKPI Rawamangun memasuki usia pelayanan yang ke-54 tahun. Setiap tahun, perayaan ulang tahun jemaat ini dimasukkan menjadi program rutin tahunan. Demikian juga halnya tahun 2019. Seyogyianya perayaan ulang tahun GKPI Rawamangun Ke-54 dilaksanakan pada tanggal 20 Juni 2019 yang lalu. Namun, pelaksanaan perayaan itu diundur satu minggu kemudian berhubung saat itu GKPI Rawamangun sedang berduka. Pemakaman Wakil Bendahara Jemaat, bapak (alm) Parasian Marbun, dilaksanakan pada hari itu. Akhirnya, Pengurus Harian Jemaat (PHJ) menetapkan perayaan dan ibadah ucapan syukur ulang tahun GKPI Rawamangun menjadi tanggal 27 Juni 2019.

Perayaan tahun ini bertajuk Malam Pujian Ulang Tahun GKPI Rawamangun Ke-54. Karenanya, semua Paduan Suara terlibat dengan menyanyikan pujian. Tidak hanya Paduan Suara, beberapa lingkungan juga terlibat menyanyikan pujian dalam ibadah tersebut. Semua nyanyian dikaitkan oleh narasi yang dibacakan oleh beberapa orang Penatua (Pnt. Henri Sinaga, Pnt. Ny. Anneke Marbun Br. Tp. Bolon, Pnt. Sumarjo Tambunan) dengan tema malam pujian itu, yaitu Wahyu 22:13. Malam Pujian yang malam itu dilayani oleh Pnt. Domdom Nadeak sebagai Liturgis, Pdt. Irvan Hutasoit yang melayani Pemberitaan Firman, serta Pnt. Donatus Nadeak memimpin Doa Syafaat, melakukan perenungan bahwa gereja adalah warisan Allah kepada orang percaya, milik Allah, serta yang dibentuk oleh Allah. Karenanya, perjalanan pelayanan dalam gereja itu sendiri haruslah ditujukan pada Allah, bukan pada keagungan manusia. Bukan pula untuk nama besar gereja itu. Intinya, keagungan Allah tidak boleh ditutup oleh keagungan manusia, juga oleh nama besar gereja. Oleh sebab itulah, setiap orang percaya diajak untuk bersama-sama membangun komunitas dalam jemaat. Hal itu sejalan dengan apa yang dipahami oleh GKPI tentang jemaat. Bagi GKPI, jemaat adalah wujud persekutuan, kesaksian, dan pelayanan yang di dalamnya Firman Tuhan diberitakan dan Sakramen dilayankan. Karenanya, menjadi penting apabila ke depan GKPI Rawamangun tetap mengembangkan komunitas pelayanan yang semuanya itu diarahkan dan ditujukan bagi kemuliaan nama Tuhan. Itulah pesan dan perenungan dalam Malam Pujian tersebut

Ibadah Malam Pujian HUT GKPI Rawamangun Ke-54 ini diikuti oleh 213 anggota jemaat. Kehadiran anggota jemaat dalam ibadah ini cukup banyak. Kehadiran yang banyak juga terjadi pada ibadah HUT GKPI Rawamangun Ke-53 yang bertajuk Kantata Keberagaman, yang saat itu, keragaman Indonesia sebagai konteks kesaksian dan kehadiran GKPI menjadi pokok perenungan. Saat itu, Paduan Suara Sola Gracia dari GKPI Menteng ikut terlibat dalam pelayanan


PANJANG UMURNYA
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-06-28

Kabar Pelayanan GKPI Rawamangun -Setelah Malam Pujian HUT GKPI Rawamangun Ke-54 berlangsung di ruang ibadah, maka acara dilanjutkan di ruang ibadah. Mars GKPI berkumandang di ruang aula. MC yang saat itu diperankan oleh Natalia Panggabean, meminta semua jemaat untuk berdiri. Beberapa anak remaja GKPI Rawamangun, yang sejak ibadah Malam Pujian menjadi pelayan musik ibadah (Michael Panggabean-Piano, Adriel Hutagalung-Gitar Bas, Abel Simanjuntak-Flute, Erick Simanjuntak-Keyboard, Paschal Panggabean-Gitar Rythm dan Adriel Tambunan-Drum, mengawalinya dengan intro. Musik bergema dan suara jemaat menyanyikan Mars GKPI menggelegar. Di akhir mars itu, semua jemaat dengan wajah sumringah dan bahagia, sembari mengangkat tangan, bersama-sama mengatakan: Hidup GKPI

Lazimnya perayaan ulang tahun, maka Panitia yang didominasi oleh perempuan, telah menyiapkan satu kue ulang tahun dengan ukuran besar di atas meja. MC mengarahkan agar semua Majelis Jemaat hadir ke depan, dan bersama-sama meniup lilin berangka 54. Tidak berhenti disana, kue ulang tahun pun dibagikan. Pertama-tama, mereka yang pertama sekali terdaftar sebagai anggota jemaat didaulat untuk menerima kue ulang tahun, yaitu: Bpk. B.Dj. Simatupang, Ibu Ny. Simanjuntak Br. Hutagalung, Ibu Ny. Sihombing Br. Nainggolan, Ibu Ny. Pnt. MS. Hutagalung Br. Lbn. Tobing, Ny. Siahaan Br. Sigalingging. Setelah itu, kue ulang tahun dibagikan secara berturut-turut kepada kelompok kategorial, dari Sekolah Minggu hingga Lanjut Usia; Lingkungan, dari Lingkungan 1 hingga 11, termasuk kepada GKPI Jemaat Khusus (persiapan) Cipayung.

Kemudian, anggota jemaat menikmati jamuan makan malam. Sebelum makan malam bersama, Pnt. SM. Lumbantobing didaulat untuk memimpin doa makan. Acara kemudian diselingi oleh inisiatif beberapa jemaat untuk bernyanyi. Kemudian, seluruh rangkaian acara berakhir pada pukul 22.30 WIB


PARTONDION
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-06-28

Kabar Pelayanan GKPI Rawamangun-Kemeriahan dan sukacita yang perayaan HUT GKPI Rawamangun juga dirasakan oleh "anak kandung"nya, yaitu GKPI Jemaat Khusus (Persiapan) Cipayung. Di sela-sela makan malam, Vocal Group Pria GKPI Cipayung melantunkan beberapa lagu pujian yang iringan musiknya dimainkan oleh Damerius Tinambunan. Dengan bergembira, nyanyian rohani penyembahan kepada Tuhan berhasil menghangatkan situasi

Salah satu nyanyian yang dikundangkan malam itu adalah Partondion. Lagu ini mengisahkan tentang pergumulan batin, bahwa apa yang ada di dunia ini tidak akan mendatangkan kebahagiaan. Kebahagiaan hanya ada apabila semua orang hidup dalam Tuhan. Kebahagiaan didapat bila hidup diarahkan kepadanya.


SENAM PEREMPUAN
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit / Robby Tambunan
Posting Tanggal :2019-06-29

Kabar Pelayanan GKPI Rawamangun- Pagi cerah, sembari matahari mengintip dari ufuk timur bersiap untuk beranjak mendaki puncak tertingginya, beberapa kaum perempuan GKPI Rawamangun berkumpul di halaman gereja. Mereka tidak mengenakan pakaian gereja atau formal lainnya. Justru, mereka mengenakan pakai olahraga. Sebagian mengenakan topi olahraga, sekedar mengurangi panas matahari yang sudah mulai menunjukkan jati dirinya sebagai sumber panas

Seorang instruktur senam yang khusus didatangkan, memimpin kamu perempuan mengolah gerak tubuhnya. Lambat laun, keringat bercucuran, pertanda gerakan efektif membakar karbohidrat dalam tubuh. Musik khas dari Maumere, Nusa Tenggara Timur, berjudul Maumure seolah menyusup menciptakan energi bagi kamu perempuan, mengikuti gerak sesuai arahan instruktur

Program ini adalah aktifitas rutin setiap bulan perempuan GKPI Rawamangun. Selain memelihara kesehatan kaum perempuan, program ini dijadikan sebagai ajang anjangsana kaum perempuan di GKPI Rawamangun. Mereka saling berinteraksi yang kemudian menjadi modal berharga dalam membangun persektuan

Menurut keterangan Ketua Seksi Perempuan GKPI Rawamangun, Ny. Rumbi Tambunan Br. Simatupang, jenis senam ini adalah aerobik. Dilanjutkan lagi bahwa melakukan senam aerobik secara teratur dapat mendatangkan banyak manfaat untuk menstimulasi denyut jantung, pernapasan, dan baik untuk jantung kita. Pada dasarnya, semua aktivitas yang menggunakan oksigen untuk membakar kalori dalam memproduksi energi dan meningkatkan detak jantung bisa disebut sebagai olahraga aerobik. Namun di Indonesia, aerobik sering identik dengan senam. Senam aerobik adalah rangkaian gerakan yang mengaktifkan otot-otot tubuh. Jika dilakukan secara teratur dan konsisten, aktivitas ini ternyata mendatangkan banyak manfaat.

Latihan aerobik atau kardio adalah beberapa bentuk aktivitas yang bertujuan untuk meningkatkan denyut jantung selama durasi tertentu. Aerobik bermanfaat dalam meningkatkan aliran oksigen ke otot dan jantung. Semakin banyak oksigen yang masuk, maka tubuh menjadi semakin sehat. Melakukan senam aerobik tidak hanya bermanfaat bagi tubuh, tapi juga untuk kesehatan mental. Senam aerobik selama 30 menit dan sebanyak tiga kali sepekan terbukti mengurangi penurunan kemampuan kognitif pada kita semua. Selain mengurangi risiko depresi dan kecemasan dengan membuat pikiran lebih rileks, senam aerobik membuat pikiran tetap tajam meski usia bertambah. Lebih jauh, sebagai hasil dari semua manfaat di atas, mereka yang melakukan aktivitas ini lebih berpeluang berumur lebih panjang dibandingkan mereka yang jarang berolahraga. Tidak ada kata terlambat. Apa pun tujuan Anda, mulai dari menurunkan berat badan, membuat tubuh tetap sehat, hingga mengurangi risiko stres, senam aerobik dapat memberikan manfaat jika dilakukan secara rutin dan teratur. Karenanya, Ketua Seksi Perempuan GKPI Rawamangun mengajak semua perempuan agar mengikuti aktifitas ini secara rutin, setiap bulan minggu keempat


HIDUP SEHAT
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit | Photo: Robby Tambunan
Posting Tanggal :2019-06-29

Kabar Pelayanan - Setelah menikmati senam sehat aerobik, perempuan GKPI Rawamangun beristirahat di teras gereja. Sembari bercengkerama menikmati kudapan di pagi hari, kaum perempuan melepas kelelahan sambil tertawa bersama. Di halaman gereja, mereka mengolah gerak tubuh untuk memelihara kesehatan. Di teras gereja, mereka mengolah kegembiraan untuk merawat persekutuan

Ketua Seksi Perempuan GKPI Rawamangun mengundang kehadiran semua perempuan untuk ikut serta dalam kegiatan ini setiap bulan. Memelihara kesehatan dan persekutuan, itulah tujuan yang mau dicapai melalui program ini


MENGUSAHAKAN METODE SPRITUALITAS
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-06-04

Sebagaimana lazimnya di Lingkungan 10, kehadiran anak-anak menjadi daya tarik tersendiri. Memang, data jemaat menunjukkan bahwa keanggotaan di Lingkungan 10 banyak didominasi oleh keluarga muda yang memiliki anak pada kategori Sekolah Minggu. Ibadah lingkungan bagi anak-anak tersebut ternyata sesuatu yang sangat dirindukan. Mereka dapat berjumpa. Selain sekolah, ibadah lingkungan dan ibadah Sekolah Minggu di gereja juga menjadi habitat mereka. Karenanya, perpisahan setelah ibadah selesai menjadi sesuatu yang menyedihkan bagi beberapa orang anak. Bagaimana tidak. Perjumpaan mereka berakhir untuk sementara

MEDIATIO DAN ORATIO
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-07-04

Kebatian Lingkungan 9 bersama Jemaat Khusus (Persiapan) Cipayung memiliki kesan tersendiri bagi tuan rumah, yaitu bapak Saut Hutagalung. Momen ibadah ini adalah perayaan Ulang Tahun ibu Ny. Hutagalung Br. Hutabarat dan Fabio Hutagalung (anak pertama). Selain itu, dirayakan pula ulang tahun pernikahan ke-27 keluarga bapak Saut Hutagalung/Ny. Hutagalung Br. Hutabarat.

Pokok pembahasan yang menarik dalam ibadah ini ialah, bagaimana membangun spritualitas dan iman jemaat? Kitab Roma 10:4-12 yang menjadi pokok pembahasan menggiring perenungan jemaat pada bagaimana kita membangun iman serta kaitan iman dan perbuatan. Maka, pada bagian akhir ditegaskan bahwa iman itu tidak berada di ruang hampa. Iman itu harus dibentuk dalam satu konteks. Konteks itu adalah kebiasaan membaca firman Allah. Hal itu dikuatkan juga oleh sifat gereja dalam pemahaman GKPI, yaitu persekutuan dimana firman Allah diberitakan dan Sakramen dilayankan. Maka tidak bisa tidak, iman jemaat dibangun dalam konteks pembiasaan merenungkan firman Allah

Bagi GKPI, ada dua dimensi yang melekat pada Alkitab. Pertama, dimensi Literasi. Alkitab itu ditulis oleh beberapa orang yang menerima pewahyuan dari Allah. Kedua dimensi inkarnasi. Susunan kata dan kalimat dalam Alkitab itu adalah kehadiran (inkarnasi) Allah dalam hidup manusia dan semesta. Dengan demikian, orang yang membaca Alkitab, dalam susunan kata dan kalimat yang diliterasikan itu si pembaca mengalami kehadiran Allah. Karena itulah, jemaat harus mengalami kehadiran Allah yang rutin dan terencana yakni melalui pembacaan Alkitab

Ternyata, membaca saja tidak cukup. Sebab bila sekedar membaca maka si pembaca bisa saja terjebak pada penggunaan Alkitab hanya memenuhi gairah ingin tahu. Sehingga pendekatan pada Alkitab sekedar ilmu pengetahuan. Karenanya, kepada jemaat yang hadir dalam ibadah lingkungan itu didorong untuk masuk ke dalam meditatio atau perenungan yang mendalam pada firman itu. Si pembaca harus menempatkan dirinya sebagai orang yang sedang disapa Allah melalui firman yang dibacanya. Sehingga, tidak perlu memasang target harus membaca berapa ayat dalam satu hari. Yang terpenting ialah kedalaman perenungan terhadap ayat yang dibacanya, serta mendoakan perenungannya itu pada Allah (Oratio). Bila sudah melakukan hal itu, maka alam berpikir manusia akan dibentuk oleh hasil perenungan tadi. Dan tindakan manusia itu akan diarahkan oleh alam berpikir itu (Tentatio).

Setelah ibadah, maka disempatkan untuk membicarakan beberapa hal, terutama menyangkut lahan pertapakan gereja yang sudah mendapat titik terang. Makanya, semua jemaat diajak untuk mendoakan pergumulan lahan pertapakan tersebut agar Allah memberkati langkah-langkah konkrit yang akan dilaksanakan beberapa waktu ke depan dapat melahirkan solusi lahan pertapakan tersebut. Pada pukul 23.00 WIB, anggota jemaat membubarkan diri. Ibadah itu sendiri dilayani oleh Pdt. Irvan Hutasoit (Pemimpin PA), Pnt. Mesta Simarmata (Liturgis), dan bapak Dharma Hutauruk (Doa Syafaat)


PEZIARAHAN TIADA AKHIR
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-07-04

Hari Minggu (30 Juni) hingga Selasa (2 Juli), Pendeta GKPI di Jabodetabek melaksanakan retret di Karwika Hotels and Resort, Cisarua, Kabupaten Bogor. Momen ini adalah program yang sudah lama direncanakan. Bahkan dari tahun lalu, program ini sudah sering direncanakan. Namun, akibat pelayanan yang banyak menyita waktu para pendeta, maka retret itu tidak kunjung terlaksana. Program tersebut baru terealisasi pada tahun 2019 ini.

Kegiatan ini juga melibatkan keluarga pendeta (suami/istri) dan anak-anak. Harus diakui bahwa inilah momentum yang sangat berharga bagi para pendeta beserta keluarga. Memang setiap bulan ada pertemuan pendeta dan keluarga yang disebut dengan istilah convent. Tetapi, sangatlah sulit untuk ikut menyertakan anak-anak Pendeta sebab mereka disibukkan juga dengan waktu belajar dan sekolah masing-masing. Kali ini, setiap anak Pendeta dapat saling berkenalan, berinteraksi. Kegembiraan anak-anak Pendeta yang ikut tergambar saat mereka bermain bersama, lari-lari mengelilingi areal atau lokasi retret, juga saat mengikuti ragam permainan yang disiapkan secara khusus kepada mereka.

Seluruh acara dikemas sesantai mungkin. Meskipun percakapan dalam bentuk diskusi menyinggung tema berat dalam bidang teologi dan perjalanan gereja, tetapi itupun dilakukan dengan cara santai tetapi serius. Sesi diskusi lebih banyak di luar ruangan, misalnya di pinggir kolam renang disertai dengan kudapan goreng pisang dan teh manis hangat. Kadangkala, para istri pendeta ikut nimbrung dalam diskusi meskipun mereka seolah menjadi penonton yang baik. Bagaimana tidak, latar belakang mereka bukan teologi. Bagaimana mungkin mereka bisa ikut aktif dalam diskusi yang tidak mereka kuasai. Alhasil, wajah mereka hanya melongok, memandang wajah para Pendeta yang diskusi sambil tertawa.

Banyak hal yang dibicarakan. Misalnya, bagaimana spritualitas jemaat yang sedang mengaku dosa di hadapan Tuhan. Apakah dia ibarat seorang terdakwa yang sedang diadili oleh Tuhan dengan ragam kesalahan? Atau, apakah dia adalah orang yang sudah menerima anugerah Tuhan sehingga saat pengakuan dosa itu, yang didorong ialah komitmen agar tetap menyatu dengan Tuhan. Hal lain juga menyangkut persiapan peluncuran Alkitab oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) sebagai pembaharuan terhadap Terjemahan Baru yang dipakai oleh gereja-gereja saat ini. Pdt. Dr. Anwar Tjen, supervisor penerjemahan di LAI menjelaskan beberapa terjemahan kata yang berganti. Percakapan menarik ialah, apakah ada kemungkinan teologi gereja akan berubah akibat perubahan terjemahan itu? Ternyata Pdt. Anwar Tjen menjawab bahwa teologi dan dogmatika gereja tidak ada yang terganggu. Jadi perbaikan terjemahan itu hanyalah soal teknis saja. Cuma, Alkitab yang akan diterbitkan nanti sedikit berbeda dengan Alkitab Terjemahan Baru yang dipakai gereja saat ini. Pada Alkitab yang akan diluncurkan itu akan dimuat studi kata yang penting. Hal itu untuk memperkaya pembaca Alkitab untuk melakukan tafsir terhadap isi Alkitab.

Diskusi yang paling menarik adalah rumusan Doa Bapa Kami. Setelah Paus Fransiskus berencana untuk mengubah rumusan Doa Bapa Kami, terutama pada kalimat "Jangan membawa kami pada pencobaan", ternyata itu menjadi viral terutama pada komunitas Kristen. Apakah GKPI harus ikut dengan arus itu? Atau, apakah LAI harus mengubah terjemahannya? Pdt. Dr. Anwar Tjen menjelaskan bahwa terjemahan yang ada sekarang itu, itulah yang paling mendekati bahasa aslinya. Beliau juga mengingatkan agar kita juga menghormati sudut pandang penulis Alkitab. Penulis Alkitab berpandangan bahwa Allah memiliki otoritas atas kejahatan dengan kebaikan. Karena itulah, makna teologi dari doa itu agar Tuhan tidak memasukkan manusia ke dalam pencobaan itu.

Masih banyak yang dipercakapkan secara santai dan serius. Memang retret ini tidak sama dengan model retret yang lazimnya diikuti jemaat. Retret ini lebih pada diskusi reflektif dengan mengambil tempat di luar ruangan. Momen yang paling dinantikan oleh para Pendeta adalah permainan yang disiapkan oleh para istri pendeta. Permainan melibatkan anak-anak dan juga para pendeta. Menariknya permainan untuk para Pendeta, yaitu memindahkan kacang dengan menggunakan sumpit. Semua Pendeta berseloroh bahwa yang akan menang pasti tim yang dipimpin Pdt. Anwar Tjen. Bagaimana tidak, sejak kecil beliau sudah menggunakan sumpit sebab itu adalah tradisi etnis Tionghoa. Apa mau dikata, ternyata yang menang adalah Pdt. Irvan Hutasoit (GKPI Rawamangun) dan Pdt. Henri Marpaung (GKPI Resort Jaya 1). Sehingga, Pdt. Anwar Tjen berseloroh. Itu akibat GKPI Rawamangun dekat dengan Bakmi Siantar dan Pdt. Henri Marpaung dengan rumah makan khas Tionghoa di sekitar Jelambar. Jadi tiap har


KETAATAN SEORANG HAMBA
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-07-06

Setiap hari Jumat adalah kesempatan bagi para penatua untuk melaksanakan sermon. Tidak hanya merencanakan pelayanan untuk satu minggu ke depan, sermon Penatua juga diwarnai oleh diskusi menarik, bergairah, dan bernas terhadap nas yang akan dipakai dalam ibadah PA Lingkungan minggu depannya. Tidak terkecuali pada hari Jumat, 05 Juli 2019. Bacaan Alkitab yang menjadi pokok bahasan dalam sermon merujuk pada Yesaya 50:4-11. Diskusi berlangsung setelah sermon dibuka pada pukul 18.20 WIB dalam doa yang dipimpin oleh Pnt. Maruhum Hutabarat. Kali ini yang menyiapkan bahan diskusi adalah Pnt. Freddy Siringoringo

Sudah menjadi kelaziman bahwa setiap bahan dalam sermon setiap hari Jumat itu, masing-masing penatua secara bergiliran akan menyiapkan materi. Lantas, materi itu semakin diperkaya oleh diskusi. Dan hasil diskusi itulah yang kemudian dipakai dalam ibadah PA Lingkungan. Kali ini, fokus diskusi adalah, bagaimana setiap orang percaya, yang adalah hamba Tuhan, dapat mewujudkan ketaatan pada Tuhan dalam keseharian hidupnya. Terjawab sudah, bahwa ketaatan itu berawal bila kita merasakan kemerdekaan hidup bersama dengan Tuhan. Bila kehidupan bersama Tuhan ibaratnya suatu keterpaksaan mustahillah setiap orang bisa mewujudkan ketaatan tersebut. Justru kemerdekaan bersama dengan Tuhan itulah yang mendorong, menginfus, serta menginisiasi hidup yang taat kepadanya. Tanpa itu, ketaatan mustahil diwujudkan

Diakhir sermon, para penatua melakukan perencanaan pelayanan untuk minggu akan datang. Mulai dari ibadah minggu, ibadah lingkungan, demikian juga pelayanan-pelayanan lainnya. Termasuk juga membicarakan anggota jemaat GKPI Rawamangun yang masuk dalam pokok doa syafaat minggu, yaitu mereka yang sedang dalam perawatan di rumah juga di rumah sakit. Selain itu juga, para penatua ikut serta melakukan koreksi bersama terhadap anggota jemaat yang akan berulang antara tanggal 08 - 14 Juli 2019. Pada pukul 21.00 WIB, sermon ditutup dan diakhiri dalam doa oleh Pnt. Ny. Ida Pakpahan Br. Hutauruk


KIDS ZAMAN NOW (1)
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-07-06

Hari ini pada pukul 08.00 WIB, Sekolah Injil Liburan (SIL) Tahun 2019 resmi dibuka. Program ini berada dalam pelaksanaan kegiatan Seksi Sekolah Minggu tahun 2019. Hingga acara ibadah pembukaan dimulai, terdaftar 43 orang anak dari yang seharusnya 61 orang. Memang, pendaftaran peserta Sekolah Injil Liburan sudah berlangsung sejak pukul 07.00 WIB.

Ibadah pembukaan dipimpin oleh kakak Sharon Silaban dan Abigail Simatupang. Pelayanan infocus oleh kakak Kezia Hutagalung dan pemain musik oleh abang Ronald Panggabean (Ketua Seksi Sekolah Minggu GKPI Rawamangun). Cerita atau khotbah dalam ibadah pembukaan oleh Pdt. Irvan Hutasoit. Sebagai tanda dimulainya Sekolah Injil Liburan (SIL), maka Pdt. Irvan Hutasoit sebagai Pemimpin Jemaat GKPI Rawamangun mengalungkan tanda peserta dan penyerahan perlengkapan peserta kepada beberapa orang, seperti: Abraham Siringorringo, Grace, kakak Yeni, dan kakak Gabi Simorangkir.

Tema Sekolah Injil Liburan Tahun 2019 adalah Kids Zaman Now. Tema ini dipertegas oleh sub-tema Membangun Komunitas: Tuhan, Sesama, dan Lingkungan, yang dirujuk dari Efesus 4:1-16. SIL akan berlangsung selama dua hari, Sabtu (06 Juli 2019) hingga Minggu (07 Juli 2019). Rencananya, SIL akan ditutup oleh Pdt. Patut Sipahutar pada hari Minggu, 07 Juli 2019, pukul 12.30 WIB. Ketika kabar ini diberitakan, SIL sedang berlangsung di Ruang Perpustakaan


KIDS ZAMAN NOW (2)
Ditulis oleh: Ronald Panggabean
Posting Tanggal :2019-07-06

Pada pukul 10.30 - 12.00 peserta Sekolah Injil Liburan memasuki sesi kedua yang berjudul Kids Zaman Now: Sesama dan Lingkungan. Setiap peserta dibagi dalam dua kelompok berdasarkan usia, yaitu anak dan remaja. Kelompok anak mengambil tempat di Ruang Perpustakaan. Anak-anak melakukan pekerjaan mandiri dipandu oleh tutor.

Pekerjaan mandiri anak berkisar pada pengalaman perpecahan antar manusia yang pertama sekali, yaitu Kain. Berdasarkan Kejadian 4:1-12, anak-anak diarahkan mengapa Kain melakukan pembunuhan kepada adiknya, Habil. Karena apa yang dilakukan oleh Kain adalah perbuatan dosa di hadapan Tuhan, maka kepada anak-anak juga diajak untuk mau mengaku dosa di hadapan Tuhan. Pengakuan itu dapat dilakukan dengan doa


KIDS ZAMAN NOW (3)
Ditulis oleh: Ronald Panggabean
Posting Tanggal :2019-07-06

Pada kelas Remaja, peserta Sekolah Injil Liburan (SIL) menggumuli tema Kids Zaman Now: Sesama dan Lingkungan. Peserta SIL diajak untuk menggumuli apa makna cinta kasih. Cinta kasih adalah penyerahan total kepada yang dikasihinya. Sebab itulah, setiap anak diajak untuk menyerahkan diri secara total kepada sesamanya dan lingkungannya. Mencintai dan penyerahan diri secara total kepada sesama dan lingkungan adalah wujud dari cinta kasih itu.


BERAGAMA: PELUANG ATAU ANCAMAN ?
Ditulis oleh: Pnt. Donatus Nadeak | Editor: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-07-10

Minggu tanggal 07 Juni 2019 adalah pelayanan yang memberi paradigma dalam beragama. Paling tidak itu dirasakan oleh anggota jemaat GKPI Rawamangun. Pelayanan firman yang dilayankan oleh Pdt. Patut Sipahutar ternyata membawa cara berpikir jemaat tentang agama itu sendiri. Pada ibadah pagi, Pdt. Patut Sipahutar mengajak jemaat untuk merenungkan, dalam beragama bagaimana posisi manusia di hadapan Allah

Tanpa disadari, dalam beragama manusia telah digiring seolah menjadi subjek agama. Kalau manusia menjadi subjek maka otomatis Allah menjadi objek. Bukankah ini menjadi kerawanan dalam beragama. Atau, bukankah ini menjadi ancaman terutama ketika kita hidup dalam kemajemukan? Karena manusia menjadi subjek beragama maka yang terjadi di tengah kemajemukan ini adalah pertentangan gagasan tentang Allah itu sendiri. Dalam narasi dan berpikir manusia yang majemuk itu, seolah terjadilah pertentangan antara allah yang satu dengan allah yang lain. Tentu ini menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup manusia

Berangkat dari pengalaman Paulus di Athena, maka Pdt. Patut Sipahutar mengajak jemaat untuk merenung bagaimana posisinya dalam beragama. Beragama itu bukanlah soal klaim kebenaran. Gagasan atau rumusan manusia tentang Allah sesungguhnya belum final, atau belum berakhir. Kalau pemahaman kita seperti itu, maka Pdt. Patut Sipahutar kembali menegaskan bahwa disitulah letak otoritas Allah yang tidak bisa direduksi manusia. Itupula menjadi penegasan bahwa Allah itu bukan objek melainkan subjek, bukan kita yang menentukan siapa Allah melainkan Dialah yang menentukan diriNya sendiri. Bila demikian cara beragama, maka beragama menjadi peluang. Peluang bagi manusia itu untuk tetap rendah diri di hadapan Allah. Peluang juga bagi perawatan relasi antar umat manusia dalam kemajemukan sebab di sana tidak ada lagi klaim kebenaran tunggal, melainkan membuka diri bahwa orang lain juga punya pemahaman tentang Allah. Sehingga bila ditanyakan adakah banyak Allah?. Maka jawaban kita seharusnya, saya menyembah hanya satu Allah, yaitu Allah yang mencipta saya, anda, semesta dan isinya. Lantas bila kepada kita juga ditanyakan, apakah kita menyembah Allah yang sama seperti yang disembah orang beragama lain? Maka disinilah kita menunjukkan kerendahan hati di hadapan Allah. Karena manusia bukanlah pemegang gagasan tunggal tentang Allah maka kita harus jujur berkata, bahwa kita tidak tahu apakah Allah yang kita sembah itu sama seperti disembah orang lain. Bila ketidaktahuan seperti ini dipelihara maka kita telah menempatkan diri sebagai objek dalam beragama, bukan lagi subjek, sebab subjeknya adalah Allah sendiri

Salah satu ciri khas Pdt. Patut Sipahutar dalam berkhotbah ialah tanpa teks. Orisinalitas renungan, dengan pandangan mata yang menguasai setiap sudut ruangan ibadah GKPI Rawamangun semakin tegas dalam renungan ibadah minggu pagi. Bersama dengan Pdt. Patut Sipahutar, yang memimpin ibadah sebagai liturgis ialah Pnt. Maruhum Hutabarat


EXPERIENCE OF GOD NOT EXPERIMENT OF GOD
Ditulis oleh: Pnt. Donatus Nadeak | Editor: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-07-10

Dalam dua kali ibadah di GKPI Rawamangun tanggal 7 Juli 2019 yang lalu, Pdt. Patut Sipahutar telah melakukan perenungan dari dua pendekatan yang berbeda. Kalau pada ibadah pagi, Pdt. Patut Sipahutar lebih menekankan cara beragama, terutama menempatkan pola hubungan antara manusia dengan Allah. Sehingga manusia tidak boleh menggunakan agama sebagai alat untuk mempertentangkan kebenaran. Bila demikian, beragama bisa berubah menjadi ancaman dalam kemajemukan. Pada ibadah siang, Pdt. Patut Sipahutar mengajak jemaat untuk merenungkan bahwa beragama itu adalah perayaan anugerah Allah sebab manusia itu bisa mengalami kehidupan karena Allah yang menganugerahkannya kepada manusia

Bila itu pemahaman yang dipegang, maka sudah seharusnya kita berkata bahwa beragama itu bukanlah menciptakan Allah. Beragama bukan pula mengeksperimenkan Allah. Kadar intelektualitas manusia tidak mungkin sanggup mendefenisikan siapa Allah. Manusia juga tidak mungkin mencoba-coba rumusan Allah dalam agama mana yang memuaskan hatinya. Sesungguhnya bukan itu yang beragama.

Beragama adalah mengalami anugerah Allah, bukan menciptakan gagasan tentang Allah. Bila beragama itu mengalami Allah maka itulah kesempatan bagi manusia itu sendiri untuk menangkap percikan kehadiran Allah pada saat ini. Bila demikian, Allah itu tidak dihasilkan oleh pengetahuan dan pikiran manusia. Allah itu sudah ada pada diriNya sendiri. Karena Allah itu sudah ada pada diriNya maka manusia mestilah terbuka pada kehadiran Allah yang otentik dalam pengalaman kesehariannya.

Pendekatan seperti ini perlulah ditanamkan. Mengapa? Tantangan beragama saat ini telah terjebak pada komersialisme. Hal yang sama telah merambat dalam kehidupan gereja. Di gereja yang dipercakapkan lebih banyak tentang penerimaan materi, atau harta kekayaan yang dimiliki. Akibatnya, para pemimpin gereja itu sendiri terjerumus pada komersialisme gereja, kira-kira apa yang diperoleh dari gereja itu. Harusnya, di gereja setiap umat mesti bersama-sama digerakkan untuk mengalami kehadiran Allah yang otentik. Bergereja menjadi peziarahan bersama orang percaya untuk mengalami kehadiran Allah yang kaya itu dalam hidupnya.

Yang menarik dalam ibadah Minggu 7 Juli 2019 itu ialah pendekatan berbeda terhadap nas yang sama. Meskipun pendekatannya berbeda, justru disanalah terletak kekayaan firman Allah itu. Sebab perbedaan pendekatan ternyata tidak saling dipertentangkan. Justru antara yang satu melengkapi yang lainnya. Bersama dengan Pdt. Patut Sipahutar, liturgis ibadah minggu siang 7 Juli 2019 dilayani oleh Pnt. Ida Pakpahan Br. Hutauruk.


BERSAMA TUHAN KAMI KUAT
Ditulis oleh: Jusnita Situmorang | Editor: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-07-10

Retreat ibu-ibu Naomi GKPI yang ada di Regional Jabodetabek mengambil tema: Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis2Nya rahmatNya . Tema merujuk kitab Ratapan 3:2. Retret ini dilaksanakan pada hari Jumat hingga Sabtu, 28-29 Juni 2019 di Villa Yedidah Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa barat. Pesertanya diikuti sekitar 65 orang.

Walau tidak semua Resort atau Jemaat Khusus yang mengutus peserta, namun kegiatan ini berlangsung meriah, hangat, dan penuh sukacita. Retret diawali dengan Ibadah Pembukaan, kemduian dilanjutkan dengan penyajian materi oleh Pdt. Pardi Silalahi (Pendeta GKPI Resort Jaya II), dengan judul: Membangun Komunitas dalam Persekutuan. Kegiatan juga dibagi menjadi 4 kelompok beranggotakan 15-16 orang yang dipilih secara acak. Nama kelompoknya pun dipilih oleh masing-masing kelompok, yaitu Marta, Maria, Rut dan Debora (nama-nama perempuan dalam Alkitab).

Acara keakraban pertama diisi dengan perkenalan anggota tiap kelompok agar satu sama lain saling kenal. Kemudian peserta juga dilengkapi dengan materi yang berhubungan dengan kesehatan, yang disampaikan oleh dr. Ny. Dermawan Silaban br. Nadeak (Ketua Seksi Kesehatan GKPI Jemaat Khusus Rawamangun), dengan judul: Gizi yang Baik Bagi Perempuan Usia Diatas 40 tahun.

Setelah makan malam ada kegiatan keakraban kedua yang diisi dengan pembagian peran sesuai dengan cerita Alkitab, serta latihan koor bersama yang dibagi oleh Panitia. Kegiatan malam ditutup dengan kontemplasi dipandu oleh Pdt. Megauli Aritonang (Pendeta GKPI Resort Bogor). Esok harinya kegiatan diisi dengan senam pagi. Selesai sarapan, acara dilanjutkan denganibadah pagi, serta lomba peran dan lomba lainnya. Kemudian pada PA kelompok yg berjudul Air hidup dibawakan oleh Pdt. Megauli Aritonang. Terakhir diadakan pemilihan pengurus, yang menetapkan Pdt. Baga Lubis (Pendeta Pensioun GKPI) sebagai Koordinator. Untuk pengurus lainnya akan ditentukan berikutnya. Acara ditutup dengan ibadah dan pembagian hadiah. Semua ibu-ibu pulang ke tempat masing-masing dengan sukacita


PENGHARAPAN DAN KETAATAN
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-07-11

Ibadah di Lingkungan 7 kali ini yang bertempat di rumah keluarga bapak Harlen Butarbutar/Br. Malau bermuatan diskusi yang menarik. Diskusi berkisar pada prinsip utama dalam kekristenan, yaitu: iman, pengharapan, dan ketaatan. Tiga hal itu kait mengait terutama sebagai faktor pembentuk spritualitas. Memang, ada empat orang penanggap, yaitu: bapak Harlen Butarbutar, bapak Pnt. Maruhum Hutabarat, bapak Harapan Sidabutar, dan ibu Desiana Hutapea. Meski hanya empat penanggap, tetapi muatan tanggapannya justru sarat dengan pesan penting

Mengawali sesi diskusi, bapak Harlen Butarbutar membuka satu pernyataan. Ketaatan pada Allah adalah hal yang sangat sulit dipraktekkan. Mungkin saja dalam percakapan seperti dalam Pendalaman Alkitab, ketaatan sangatlah mudah dipercakapkan. Tetapi dalam kenyataan sehari-hari, ketaatan justru susah diwujudkan. Akibatnya, totalitas penyerahan diri kepada Allah kerap menjadi sikap minor dari perilaku orang percaya. Meskipun bapak Harlen Butarbutar seolah melempar pernyataan, tetapi justru mengandung pertanyaan.

Hal senada juga disampaikan oleh bapak Pnt. Maruhum Hutabarat. Beliau justru merujuk pada pandangan bahwa yang menguatkan hidup seseorang adalah pengharapan. Padahal, tanpa totalitas penyerahan diri kepada Allah mustahil seseorang itu memiliki pengharapan kepada Allah. Sebagai contoh, bapak Pnt. Maruhum Hutabarat mengisahkan seorang pekerja jermal di tengah laut yang terdampar lebih dari 40 hari. Mengapa dia tetap hidup ketika ditemukan di lautan luas, tanpa bekal makanan dan minuman? Pastilah, bahwa yang menguatkannya adalah pengharapan.

Bapak Harapan Sidabutar memberi respon. Dalam responnya, beliau menekankan bahwa ciri khas dan bahkan menjadi keunikan setiap orang yang percaya pada Yesus adalah pengharapan. Memang, manusia sering diperhadapkan dengan akal budi dan rasionalitas. Tetapi justru disitulah letak masalahnya. Bila manusia lebih menekankan akal budi dan rasionalitas mustahil totalitas penyerahan diri pada Allah dapat dimiliki oleh seseorang. Karenanya, ada saat tertentu kita harus mengabaikan akal budi dan rasionalitas.

Lantas, ibu Desiana Hutapea mencoba menyoroti fenomena perpindahan agama yang terjadi belakangan ini. Siapa yang salah? Apakah dia yang pindah agama itu karena imannya tidak kuat? Atau justru gereja yang tidak memperhatikan domba yang digembalakannya?

Menanggapi respon yang muncul dalam ibadah itu, Pdt. Irvan Hutasoit mencoba untuk melukiskan ulang, pengaruh apa yang dominan dalam tradisi kekristenan. Merunut pada pendekatan sejarah, dapat dipastikan bahwa rasionalitas Eropa banyak mempengaruhi cara beriman. Salah satu sifat rasionalitas Eropa ialah pada aspek pembuktian; sebab segala sesuatu yang tidak bisa dibuktikan mustahil dapat diterima sebagai kebenaran. Ternyata hal itu mempengaruhi cara beriman kita. Kita sibuk dan gemar mencoba membuktikan entitas Allah. Kadangkala pembuktian itulah unsur penguat totalitas penyerahan diri pada Allah. Padahal, Allah tidak perlu dibuktikan, tetapi dialami dalam realitas dan keseharian hidup. Karena hidup adalah pengalaman kehadiran Allah dalam sejarah kehidupan, maka di saat itu jugalah lahir totalitas penyerahan diri pada Allah. Kemudian, totalitas itu juga yang menumbuhkan pengharapan. Bila sudah demikian, maka pengharapan dan ketaatan akan muncul dalam diri seseorang. Seseorang itu tidak mudah lagi mengingkari atau meragukan keberadaan Allah.

Dalam ibadah Lingkungan 7 kali ini, Liturgis adalah Pnt. Maruhum Hutabarat; sementara Pemimpin PA adalah Pdt. Irvan Hutasoit.


DOA SALOMO MEMOHON HIKMAT
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-07-19

Sermon pada Minggu 4 Setelah Trinitatis diambil dari 1Raja 3:5-15. Bacaan ini berada dalam perikop yang oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) diberi judul, Doa Salomo memohon hikmat. Yang menyajikan bahan sermon adalah Pnt. Sumarjo Tambunan. Hingga kabar ini dikabarkan, sermon penatua masih berlangsung


HIKMAT YANG MERANGKUL
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-08-18

Minggu 9 Set. Trinitatis yang dilaksanakan di GKPI Jemaat Khusus (Persiapan) Cipayung dilaksanakan di dalam terang tema, HIKMAT YANG MERANGKUL. Tema ini merujuk pada kesaksian Alkitab tentang hikmat Salomo dalam 1Raja 4:29-34. Hikmat Salomo menjelaskan dua hal sekaligus, yaitu pemuliaan Allah seta membuka diri pada fakta kehidupan yang juga dimiliki oleh ciptaaan lain. Hikmat yang merangkul ialah hidup yang memuliakan Allah sekaligus mendukung kehidupan yang lain. Ibadah dihadiri sekitar 60 orang.


MEMBAYAR PAJAK
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-09-12

Kebaktian Lingkungan 10 yang dilaksanakan di rumah keluarga bapak Agus Panggabean, Jl. Komaruddin, Penggilingan. Dalam PA ini dibicarakan dan didiskusikan seperti apa peran anggota gereja dalam negara. Bolehkah warga gereja berpolitik?. Dalam diskusi dicapai kesepakatan bahwa anggota gereja boleh berpolitik. Tetapi dalam politik itu haruslah diusahakan kebaikan bagi bangsa ini. Untuk memperjuangkan kebaikan itulah maka gereja harus melengkapi anggotanya untuk mewujudkan kebaikan melalui partisipasi politiknya. Demikian juga halnya dengan pembayaran pajak. Pembayaran pajak adalah perwujudan dan partisipasi anggota jemaat melakukan kebaikan bagi bangsa ini.


IBADAH PENHIBURAN
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-11-13

Ibadah penghiburan dilaksanakan di GKPI Rawamangun bagi keluarga Juven Habeahan / Br. Marpaung. Orang tua Juven Habeahan, Op. Wendi Habeahan/Br. Simbolon, meninggal beberapa waktu lalu pada usia 69 tahun. Sebelumnya, almarhumah telah lama mengidap penyakit gula darah.

Kata penghiburan disampaikan oleh perwakilan jemaat. Dari kategorial perempuan disampaikan oleh Ny. Hutagalung Br. Simbolon, kategorial pria oleh Rommel Pakpahan. Sementara dari Penatua oleh Pnt.Aris Simamora. Pelayan ibadah antara lain oleh Pnt. Mannauli Sibuea Br. Hasibuan sebagai Liturgis, Doa Syafaat oleh Pnt. Mestan Simarmata dan Pelayan Firman oleh Pdt. Irvan Hutasoit. Nas Alkitab dalam ibadah penghiburan diambil dari Roma 14:7-9. Doa dan harapan jemaat, kiranya keluarga berduka dihibur dan dikuatkan Tuhan.


EMPATI PADA KEMATIAN
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-11-13

Dalam rangka ibadah penghiburan terhadap keluarga Juven Habeahan/ Br. Marpaung, yang mewakili pengurus yaitu Pnt. Aris Simamora menyampaikan penghiburan bagi keluarga. Dalam kata penghiburannya disampaikan agar keluarga tetap berpengharapan kepada Tuhan. Kepada keluarga juga disampaikan agar mereka bersama dalam hubungan keluarga tetap menjaga hubungan harmonis.

Pnt. Mestan Simarmata juga menambahkan bahwa anggota jemaat yang hadir dalam ibadah penghiburan ini cukup banyak. Biarlah kehadiran jemaat malam ini menjadi ingatan kepada keluarga yang berduka bahwa banyak keluarga yang peduli dan merindukan keluarga Juven Habeahan/ Br. Marpaung dalam persekutuan di gereja ini.


PENGHIBURAB KELUARGA (ALM.) KARLOS SIALLAGAN
Ditulis oleh: Pdt. Irvan Hutasoit
Posting Tanggal :2019-11-14

Ibadah penghiburan dilaksanakan bagi keluarga (alm.) Karlos Siallagan. Almarhum meninggal pada usia 60 tahun meninggalkan Isteri dan tiga orang anak (Michael, Abednego, dan Olin). Nas Alkitab dalam ibadah ini diambil dari Roma 14:7-9. Ibadah penghiburan ini dilayani oleh Pnt. Freddy Siringoringo sebagai Liturgis, Pnt. Henry Sinaga membawakan Doa Syafaat, dan Pdt. Irvan Hutasoit sebagai pengkhotbah. Sementara ucapan penghiburan disampaikan oleh Pnt. Ida Pakpahan Br. Hutauruk dari Seksi Perempuan, Metana Panjaitan dari Pemuda-i, Ny. Sihombing Br. Marpaung dari Lingkungan 8 dan Pnt. Salim Panggabean dari Majelis Jemaat.