GKPI JEMAAT KHUSUS RAWAMANGUN

Koleksi Renungan Pdt. Irvan Hutasoit



Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Penulis |Pdt. Irvan Hutasoit|
Kategori | Kebaktian Lain-Lain|
Waktu | 2019-09-14 |

PEMUDA GEREJA DAN BUDAYA GLOBAL

Pemuda merespon kehidupan global melalui narasi-narasi dalam Alkitab
GLOBALISASI SEBAGAI FENOMENA : Sebuah Pengantar

Globaliasasi adalah istilah teknis untuk proses berintegrasinya masyarakat dunia menjadi tunggal, homogen dalam cara pikir, yang terjadi melalui sistem perdagangan lintas batas, politik luar negeri negara-negara adikuasa/kapitalis dan kemajuan teknologi informasi. Secara historis, proses ini sudah cukup lama, dimulai ketika Jalur Sutra, yaitu jalur terbuka menghubungkan Asia (China) dengan kekaisaran Romawi mulai abad 2 SM. Dalam perkembangannya, beberapa jalur perdagangan melalui laut, memungkinkan beberapa peradaban di masa selanjutnya, seperti Arab dengan Islamnya (yang berhasil menguasai wilayah Indus sampai Andalus), kemudian abad ke 16 Portugis/Spanyol, kemudian Belanda dan Inggris (abad 17 sampai awal abad 20) menjelajahi dan menaklukan beberapa wilayah dunia. Minahasa sendiri, sudah masuk ke perdagangan global sejak bangsa Portugis/Spanyol datang menginjakkan kakiya di pelabuhan Manado, Kema dan Amurang. Kekristenan pun dimungkinkan menyebar, termasuk masuk ke tanah Batak oleh karena adanya perdagangan global tersebut. Jadi, GKPI secara historis dapat disebut sebagai buah globalisasi itu.

Dalam arti harafiah, globalisasi adalah proses transformasi fenomenal lokal atau regional menjadi global. Masyarakat dunia menjadi tunggal dan berfungsi sama di dunia yang semakin “mengecil”. Disebutlah dunia ini dengan istilah Small Village. Awalnya, “globalisasi” lebih dekat dengan peristilahan ekonomi yaitu ekonomi terintegrasi yang tidak lagi dibatasi oleh batas-batas negara. Semua negara wajib membuka diri untuk menerima investasi dari luar. Bahkan satu negara tidak mungkin lagi mandiri sebab dia harus disokong dan ditopang oleh pelaku investasi dari luar.

Lambat laun, globalisasi ini merambat hingga wilayah politik dan budaya. Peristiwa politik di suatu negara tidak lagi berdiri sendiri. Peristiwa itu memiliki kaitan erat dengan peristiwa yang ada di belahan dunia lainnya. Misalnya kita sekarang ini melihat kebangkitan politik agama di negara kita, hal itu tidak bisa dilepaskan dari goncangan yang terjadi di negara-negara jazirah Arab, seperti munculnya ISIS (Islamic State in Iraq-Syiria). Ujaran-ujaran kebencian (hate speech) berdasar agama dan ras yang sedang marak saat ini berkaitan erat dengan fenomena perang di jazirah Arab dimana setiap perbedaan pastilah saling membumihanguskan. Perbedaan ibarat monster yang siap membunuh dan menelan siapa saja. Akhirnya, setiap orang takut untuk berbeda.

Hal yang sama juga terjadi dalam budaya masyarakat. Konon, budaya masyarakat global lebih didominasi oleh produk Hollywood. Kini, budaya lokal satu negara bisa jadi fenomena global. Misalnya, gangnam style yang populer di Korea ternyata merambah hingga ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Demikian juga halnya dengan budaya lokal di Indonesia, seperti lagu yang populer belakangan ini berjudul Syantik yang dinyanyikan Cici Badria (penyanyi dangdut). Lagu dangdut yang dulunya dikategorikan sebagai musiknya orang pinggiran, kini telah merambah hingga ke negara Barat hingga bertengger di tangga 12 dalam www.billboard.com (di atas lagu Despacito yang dirilis oleh Luis Fonsi & Daddy Yankee feat Justin Bieber).

Saya menjelaskan hal di atas untuk menggambarkan bahwa dunia tempat tinggal kita saat ini adalah tanpa batas. Karena dunia ini seolah tanpa batas lagi maka globalisasi akan memberi dampak yang besar bagi perkembangan kepribadian setiap orang, termasuk pemuda di dalamnya. Karena itu, bagi kita yang sedang beranjak memasuki usia Pemuda gereja, perlulah nilai-nilai yang mengawal dan menopang kita mersepon hal itu.

PEMUDA DALAM NARASI ALKITAB

1. Yusuf: Karakter dan Pengaruh

Yusuf adalah seorang anak kesayangan atau anak manjanya Yakob karena terlahir dari Rahel istri yang sangat dicintainya. Dia memiliki keunikan dibanding saudara-saudaranya yakni bermimpi dan mampu menebak mimpi. Karena itu, Yusuf sangat dibenci saudaranya sehingga dijual kepada para pedagang Midian yang kemudian dijual ke istana Firaun. Dia adalah seorang pemuda yang penuh tanggungjawab di dalam melaksanakan tugasnya. Dalam istilah sekarang, Yusuf adalah bukan seorang pemuda yang “merasa bisa” tetapi pemuda yang ”bisa merasa.” Artinya dia tahu posisinya sebagai seorang hamba yang diberikan kepercayaan tuannya di istana Firaun. Dia tidak mau menyianyiakan kepercayaan itu (bnd. Kej. 39: 7-10).

Karena itu, walau dia harus menjadi terpidana karena difitnah oleh istri Firaun, Yusuf tetap bertanggungjawab atas hidupnya sebagai anugerah Tuhan. Dan Tuhan memakai Yusuf secara luar biasa. Dia seorang pemuda yang belum berpengalaman tetapi ketika Tuhan memakainya dan dia mau dipakai oleh Tuhan; Yusuf mampu menjadi seorang pengelola ekonomi di istana Firaun. Saat 7 tahun kelimpahan dia menjadikan lumbung istana sebagai tempat menyimpan gandum dan saat 7 tahun kekurangan bisa menjadi tempat untuk meminjam atau membeli gandum. Tuhan telah memakai pemuda Yusuf bukan saja menolong bangsa Mesir tetapi juga bangsa lain di sekitarnya termasuk saudara-saudara yang telah menjualnya karena benci.

Yusuf yang berasal dari tanah Kanaan itu mampu berkreasi di negeri yang jauh, yaitu tanah Mesir. Disini kita bisa melihat unsur globalisasi, namun karakter Yusuf tidak serta merta dipengaruhi oleh sifat manusia di negeri tempat tinggalnya. Dia tetaplah sebagai Yusuf yang berkarakter. Memang, sesaat dia mengalami situasi sulit, hidup dalam penjara oleh karena komitmen dan keteguhan karakternya itu. Tetapi dalam perjalanan berikutnya, dia menjadi seorang yang memiliki pengaruh besar di negeri tempatnya tinggal. Karakter dan pengaruh adalah nilai yang mengalir dalam proses globalisasi, yang akan mempengaruhi seseorang. Karena itu, perlulah setiap pemuda memiliki karakter agar pengaruh-pengaruh baik terhadap dunia sekitar mengalir dari dalam dirinya.

2. Musa: Keteguhan pada nilai dasar kehidupan

Musa adalah seorang anak yang lahir dari keluarga Amran dan Yokhebet dari suku Lewi, puak Kehat. dalam kondisi politik yang sangat kritis dalam kehidupan umat Israel di Mesir sepeninggalan Yusuf. Saat itu di Mesir telah muncul Firaun menguasai negeri itu, yang tidak mengenal Yusuf. Dengan demikian, kebijakan dikeluarkan untuk menghambat perkembangan bangsa Israel di tanah Gosen. Firaun takut bila suatu ketika bangsa Israel lebih banyak, maka mereka akan menguasai Mesir. Karenanya, Firau memerintahkan agar semua anak laki-laki yang baru lahir harus dibunuh.

Akibat keputusan genocide itu, Musa menjadi seorang “anak buangan” di sungai Nil. Kemudian Musa diangkat menjadi “anak angkat” oleh seorang putri Firaun. Sejak kecil dia sudah dididik di dalam istana Firaun dengan adat-istiadat dan gaya hidup di Mesir tetapi dia tidak lupa asal-usulnya. Itulah sebabnya, dia segera membela salah seorang umat Israel yang diperlakukan sewewenang oleh seorang Mesir (bnd. Kel. 2: 11-dstnya). Sebagai seorang pemuda yang sudah belajar dan mengetahui banyak hal tentang budaya di Mesir, Tuhan memanggilnya untuk memimpin bangsanya keluar dari suasana perbudakan dan penjajahan bangsa Mesir. Saat dipanggil, Musa juga tidak mau, tidak tahu siapa dirinya. Dia keberatan karena merasa tidak mampu, tetapi Tuhan tetap memilihnya menjadi seorang pemimpin. (bnd. Kel. 3: 10-dstnya). Dalam dan melalui kepemimpinan Musa (di-bantu Harun kakaknya), Israel telah menjadi satu umat yang meredeka, umat yang hanya percaya kepada Tuhan. Sosok Musa adalah seorang sosok pemuda yang mau belajar tetapi tetap memiliki hati untuk membebaskan bangsanya. Seorang pemuda yang mau mengambil peran karena mendengar panggilan Tuhan daripada mengikuti kata hatinya.

Seperti Yusuf di atas, Musa telah menjalani gaya hidup yang berbeda dengan akar kulturalnya. Tetapi Musa tidak melupakan siap dirinya. Dia tetap sadar bahwa dirinya seorang keturunan Israel. Globalisasi terlalu menggiurkan sehingga kita kadang lupa siapa diri kita. Bahkan, nilai-nilai yang kita anut diabaikan kemudian menganut nilai yang dianut oleh masyarakat dari belahan dunia lainnya. Musa menjadi pelajaran penting bagi kita, bahwa seorang pemuda tidak boleh melupakan nilai-nilai kehidupan yang membesarkannya meskipun aktifitas hidup dalam dunia globalisasi adalah fenomena yang tidak terelakkan.

3. Ester: Mewujudkan nilai kepedulian

Ester adalah seorang anak yatim-piatu yang sejak kecil dipelihara oleh pamannya Mordekai (ibunya Abihail saudara perempuan Mordekhai). Nama Ester artinya Bintang, yang kemudian menjadi bintang pada zamannya. Sebuah nama untuk seorang gadis Yahudi bernama Hadasa (=artinya pohon murad). Saat terjadi situasi kritis di istana Susan yakni saat Ahasyweros mengusir ratu Wasti karena pembangkangannya atas panggilan Raja, Hadasa/Ester tampil. Dengan kecantikannya yang luar biasa dia terpilih dan berhak masuk menjadi penghuni istana dan dinobatkan sebagai ratu pengganti wasti. Melalui Mordekai, Tuhan memakai Ester untuk menolong bangsa Israel yang siap untuk dibantai karena rencana jahat Haman untuk memusnahkan semua orang Yahudi.

Dengan berani Ester menghadap Raja tanpa dipanggil, untuk memberitahukan semua kondisi yang sementara terjadi di sekitar istana. Mordekai bebas dari hukuman sebagaimana direncankan Haman dan sebaliknya Hamanlah yang dihukum dan orang Yahudi bebas dari penghancuran dan mendapat hak untuk hidup di kakaisaran Persia. Sosok Ester adalah seorang pelaku sejarah yang menegaskan bahwa seorang perempuan tidak hanya “simbol kecantikan yang dihubungkan dengan masalah seksual dan sensualitas” semata tetapi juga dengan peran politik yang menentukan walau penuh resiko (bnd. Ester 4:16). Melalui tokoh Ester juga mau mengatakan bahwa “perempuan yang sering dianggap lemah” memiliki kekuatan yang luar biasa ketika memberi diri untuk dipakai oleh Tuhan.

Globalisasi saat ini sering memaksa setiap orang hidup kompromis pada nilai-nilai hidup. Mungkin saja nilai-nilai yang sedang booming itu menggiurkan dan kalau kita tidak mengikutinya maka akan disebut kurang dalam pergaulan. Akhirnya, kita kompromis bahkan meninggalkan nilai hidup yang sudah kita anut. Ester menjadi tokoh penting, dimana bagi dirinya Israel harus bebas meskipun dia harus berhadapan dengan kekuatan bangsa lain yang jauh lebih besar dari bangsanya sendiri. Dalam globalisasi ini, pelajaran dari Ester ialah kepedulian. Nilai kepedulian terhadap orang lain menjadi sangat penting sebab beserta globalisasi itu sendiri sifat individualis ikut juga bereksistensi.

KESIMPULAN

Dari penjelasan di atas, dapat dilihat bahwa kita tidak perlu menghindar dari globalisasi karena globalisasi itu sendiri tidak bisa dihindari. Kita harus bisa bergeliat dalam era globalisasi ini sebab nilai-nilai kehidupan yang telah membesarkan kita haruslah tetap diperjuangkan. Nilai hidup yang sudah kita anut itu perlulah dipertahankan sebab kita tidak mungkin kalah dalam globalisasi ini meskipun ada nilai lain yang ditawarkan. Tuhan memberkati kita dalam usia muda ini.

Dari tiga tokoh Alkitab di atas, maka dapatlah kita simpulkan bahwa mereka dapat dijadikan sebagai figur pemuda di zaman ini. Di era yang mengglobal sekarang ini, kita sering terjebak pada imitasi jati diri dan budaya. Bila tidak mengimitasi atau meniru, seolah kita tidak up to date. Di zaman yang semakin tidak ada batas sekarang ini, kemanusiaan kita terancam sebab rekan bergaul adalah dunia maya. Kehadiran fisik sesama di sekitar semakin tidak berharga sebab kita sudah asyik bercengkerama dengan yang lain di dunia maya sana. Zaman yang berkembang sekarang ini mudah membaya kita goyah pada prinsip dasar kehidupan.

Oleh sebab itu, maka peran yang harus dijalankan oleh pemuda ke depan belajar dari tiga tokoh dalam Alkitab di atas dalam dirumuskan menjadi tiga hal. Pertama, pemuda gereja harus berani menjadi pribadi yang berkarakter serta menebar kebaikan bagi sekitar; Kedua, pemuda gereja harus memiliki kepribadian yang teguh pada nilai-nilai kebenaran yang telah membentuknya sejak lahir; dan Ketiga, pemuda gereja harus mampu menjadi pribadi yang menebar kepedulian bagi yang lain. Tuhan Memberkati.