GKPI JEMAAT KHUSUS RAWAMANGUN

Kumpulan Renungan




Penulis |Pdt. Irvan Hutasoit|
Kategori | Kebaktian Minggu|
Waktu | 2019-11-24 |

KEMATIAN: BUKAN KEHILANGAN TETAPI UNTUK MENDAPATKAN

Habakuk 3:1-6

Keberadaan manusia sepanjang hidupnya tidak pernah lepas dari yang namanya pergumulan. Ada dua sisi dalam kehidupan manusia, yaitu pergumulan dan sukacita. Pergumulan sering melahirkan dukacita, membuat pikiran terbeban dan hati sesak. Dan tidak jarang, pergumulan mendorong manusia pada keputuasasaan yang mengakibatkan pupusnya harapan. Pertanyaan penting bagi kita. Apa yang mengakibatkan pergumulan hinggap dalam kehidupan kita?

Pergumulan atau sukacita adalah tanggapan kita atas kenyataan. Cara atau sudut pandang terhadap kenyataan, itulah yang kerap menimbulkan sikap atau perasaan, apakah kita bergumul atau bersukacita. Saya bisa memberi contoh tentang hal ini. Suatu masa seorang mahasiswa, sebut saja namanya Navri, dinyatakan lulus dan segera akan diwisuda. Di hari wisuda, saat yang lain bersukacita, ternyata Navri meneteskan air mata. Dia bersedih. Mengapa? Setelah diselidiki maka didapat informasi bahwa Navri bersedih karena orang tuanya tidak bisa hadir di hari istimewa tersebut. Orang tuanya telah berbulan-bulan dirawat di rumah sakit akibat penyakit kanker.

Perhatikan contoh di atas. Antara mahasiswa yang bersukacita dan Navri yang bergumul itu sedang berhadapan dengan kenyataan yang sama, yaitu wisuda. Lantas, mengapa ada dua sikap yang berbeda. Mahasiswa yang bersukacita itu memahami wisuda tersebut sebagai hasil yang sudah diperoleh. Sementara Navri melihat wisuda itu dari sudut pandang berbeda, yaitu ada sesuatu yang hilang akibat ketidakhadiran orang tuanya. Dengan demikian, baik sukacita maupun pergumulan seringkali berawal dari cara pandang terhadap kenyataan. Kita bersukacita karena kenyataan sesuai dengan apa yang seharusnya. Sebaliknya, kita bergumul akibat kenyataan tidak seperti apa yang diharapkan.

Kalau begitu, bagaimana kita memahami suatu kenyataan yang terjadi dalam hidup kita. Dari enam ayat firman Tuhan hari ini, saya mau mengajak kita untuk fokus pada dua ayat, yaitu ayat 1-2. Dari dua ayat itu, maka alangkah baiknya bila pertama-tama kita memahami ayat 2 itu. Disana ada kata teman. Apakah kata itu berarti sahabat? Tidak. Kata teman berasal dari bahasa Ibrani yang dapat juga diartikan dengan selatan. Namun kata Teman itu dapat juga merujuk pada nama cucu Esau dari anaknya yang bernama Elifas. Pengertian apapun yang kita pakai, namun yang menarik adalah frasa yang mengawali ayat 3 itu, “Allah datang dari negeri Teman ...”

Frasa pada awal ayat 3 tersebut melawan cara pandang orang Yehuda. Bagi keturunan Yehuda, Allah itu datang dari gunung Sion. Tetapi dalam doanya, Habakuk justru mendengar bahwa Allah itu datang bukan dari Sion tetapi dari negeri lain yang justru bukan bagian dari bangsa atau umat Allah. Maksudnya, Allah memiliki otoritas dan hak untuk menyapa hidup manusia dari segala penjuru. Bahkan dari satu kenyataan yang tidak mengenakkan hati sekalipun, Allah dapat menyapa manusia.

Maka itulah sebabnya mengapa kemudian Habakuk berkata pada ayat 2 itu. Dalam doanya tersebut, ada kerinduan Habakuk agar Allah dan pekerjaanNya hadir dalam lintasan waktu. Maksudnya, bukan hanya pada waktu tertentu saja Allah itu melintas atau menyapa hidup manusia. Seluruh waktu kehidupan adalah lintasan kehadiran Allah. Semua waktu adalah momentum atau waktu yang dipakai Allah untuk menjumpakan diriNya dengan kita.

Pada hari ini kita masuk dalam minggu akhir tahun gereja. Lewat minggu ini, kita memasuki minggu-minggu Adven. Lazimnya, hari inilah kita akan mengingat kekasih hati yang telah meninggal. Dapat dipastikan, hati dan batin kita saat ini campur aduk. Ada kesedihan yang tidak terucap. Rasanya ingin berteriak dan menangis, meratapi kengiluan hati sebab telah berpisah dengan kekasih jiwa kita itu. Kita bergumul dan juga, kita bersedih. Perenungan buat kita hari ini ialah, akankah kita biarkan kengiluan dan kesedihan hati itu tetap berbekas?

Sebagaimana sudah saya jelaskan di atas bahwa sukacita dan pergumulan adalah dua sisi yang selalu hadir dan melekat dalam kehidupan kita. Respon apa yang muncul ketika menghadapi kenyataan ditentukan oleh sudut pandang melihat kenyataan itu sendiri. Demikian juga tentang kematian. Kita dapat bersedih bila kematian itu dipandang sebagai fakta yang mengakibatkan rasa kehilangan. Sebaliknya, kematian dapat melahirkan harapan manakala kita memandangnya sebagai fakta yang harus dilalui untuk memperoleh sesuatu. Tetapi, sudut pandang apapun yang kita pakai, pesan firman hari ini tidak boleh kita abaikan. Allah itu setia. KesetiaanNya diwujudkan ketika Dia menjumpai dan menyapa kita di segala tempat dan waktu. Termasuk hari ini, saat kita mengingat kekasih kita yang lebih dahulu meninggal. Kesempatan ini juga dipakai Allah untuk menyapa dan menjumpai kita.

Bagaimana caranya Allah menyapa dan menjumpai kita yang mungkin saja sedang bersedih hari ini? Maka, marilah kita mengingat Tuhan Yesus. Selain kelahiranNya yang sebentar lagi akan kita rayakan, ada tiga momentum penting kehadiranNya dalam sejarah dan pengalaman manusia, yaitu: kematian, kebangkitan, dan kenaikanNya. Tiga hal itu sangatlah penting kita hayati saat ini. Dia mati untuk bangkit dari antara orang mati. Selanjutnya, Dia bangkit untuk naik ke singgasanaNya yaitu sorga. Maksudnya, kematianNya bukanlah akhir keberadaan Allah. Ternyata, kematianNya berlanjut pada kebangkitan. Tidak berhenti pada kebangkitan, sebab setelah bangkit dari kematian, Dia naik ke sorga.

Dengan demikian, meskipun di antara kita ada yang bersedih hari ini tetapi satu hal yang tidak dapat kita lupakan, bahwa kematian dalam Tuhan Yesus pasti menawarkan harapan baru, yaitu kebangkitan. Dan kebangkitan itu tidak seperti kebangkitan Lazarus saja. Kebangkitan itu menjadi pintu masuk bagi kita untuk hidup bersama dengan Allah dalam kekekalan. Jelas sudah, bahwa sudut pandang pada kematian bukanlah fakta yang membuat kita kehilangan orang-orang yang dikasihi. Justru sebaliknya, kematian menjadi momentum untuk memperoleh anugerah Allah, yaitu kebangkitan.

Itulah sebabnya, tema minggu ini berkata, Allah yang agung menghakimi bangsa-bangsa. Dia menghakimi tidak berarti memenjarakan. Dia menghakimi agar kita bebas dari penjara kematian. Dia menghakimi agar dibalik kematian setiap orang percaya pada Kristus, beroleh kekekalan. Dia menghakimi agar kelak kita diangkat dari kematian pada hidup kekal. Oleh sebab itulah, ajakan bagi kita hari ini: pandanglah kematian sebagai momentum untuk memperoleh anugerah Allah, bukan fakta yang mengakibatkan kita merasa kehilangan. Terpujilah Tuhan. Amin.

----- Page Break -----

Baca Renungan Lain